IAI Qomaruddin (Bab IV)



BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.    Deskripsi Obyek Penelitian
1.      Identitas Sekolah
Nama Sekolah             :     Madrasah Ibtidaiyah Daruttaqwa
Status                          :     Terakreditasi “ A “
Alamat                        :     Jl. KH. Syafi`i, Gg. KH. Syaikhuna, Suci Manyar Gresik Telp. 031-72411040
Kecamatan                  :     Manyar
Kabupaten                   :     Gresik
Kode Pos                    :     61151
NSS/NSM                   :     111235250340
Tahun Berdiri              :     1995
Waktu Belajar             :     Pagi
2.      Sejarah Singkat
69
 
Telah dimaklumi bahwa dalam rangka meningkatkan sumber daya muslim yang dapat berfungsi sebagai “Abdullah” dan sekaligus sebagai “ Khalifah Allah fi al-ardl” maka diperlukan peningkatan kualitas lulusan lembaga-lembaga pendidikan islam, utama lembaga pendidikan yang ada dibawah naungan pondok pesantren, sebab para pendidik Islam sepakat bahwa sampai detik ini lembaga pesantren ternyata masih efektif untuk mencapai tujuan tersebut. Upaya peningkatan lulusan lembaga pendidikan Islam disamping membutuhkan pengelolaan professional,kreatif, dan inofatif,pola manajemen yang handal, juga dibutuhkan pemenuhan kebutuhan fisik dan perlengkapan pendidikan.
Pondok Pesantren Daruttaqwa Suci Manyar Gresik Jawa Timur semenjak berdiri tahun 1987 telah mengelola pendidikan sekolah diniyah maupun pendidikan Formal dari tingkat pra sekolah sampai perguruan tinggi yakni RA Muslimat 180 Daruttaqwa (berdiri tahun 1995/1996) MI Daruttaqwa ( berdiri tahun 1995/1996), MTS Daruttaqwa ( berdiri tahun 1994/1995), MA Daruttaqwa (berdiri tahun 1995/1996) dan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Daruttaqwa (berdiri tahun 1998/1999).
Lembaga Pendidikan Madrasah Ibtida`iyah Ma`arif Daruttaqwa Suci Manyar Gresik merupakan lembaga pendidikan yang berdiri pada tahun 1995 yang sekarang berstatus “terakreditasi A”, Alhamdulillah dalam perjalannya dari tahun ketahun semakin mendapat kepercayaan dari masyarakat, ini terbukti dari jumlah siswa yang selalu bertambah. Kondisi Madrasah Ibtida`iyah Ma`arif Daruttaqwa dari segi kesiapan manajemen untuk sementara dirasa memadai, karena semua pengelolaannya telah memenuhi kualifikasi sebagai pengelola pendidikan. Namun dari segi kelengkapan kebutuhan fisik dan perlengkapan pendidikan masih belum memenuhi kriteria lembaga pendidikan Islam yang ideal yang kondusif sebagai wahana proses pendidikan secarta efektif.
Upaya pemenuhan dan penyempurnaan kebutuhan fisik dan perlengkapan pendidikan sudah dilaksanakan secara bertahap namun selalu ada hambatan, utamanya mengenai masih kurangnya pendanaan. Oleh karena itu kami semua pengelola masih sangat membutuhkan bantuan dari semua pihak.
3.      Visi, Misi, Dan Tujuan
Visi:
Terbentuknya Siswa/i yang Beriman, Bertaqwa, Berilmu, Berprestasi dan Berakhlaqul Karimah.
Misi
a)      Menyiapkan generasi yang memiliki keselarasan di bidang IMTAQ DAN IPTEK.
b)      Mengembangkan dan melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efaktif, kreatif dan inovatif dengan berorientasi pada CTL dan PAKEMI
c)      Berprestasi di bidang Akademik dan Non akademik.
d)     Melaksanakan pendidikan yang bernuansa Islami agar terbentuk Akhlaq yang mulia
e)      Meningkatkan kesadaran wali murid dan masyarakat tentang pentingnya pendidikan
Tujuan Pendidikan
Membentuk siswa/i yang memiliki Keimanan, Kecerdasan Berkepribadian dan Berakhlaqul Karimah serta mempersiapkan siswa/i melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi.
Tujuan Secara khusus tujuan pendidikan MI Daruttaqwa adalah:
1. Mencetak Lulusan Yang berilmu, beriman, bertaqwa, beramal, dan berakhlakul karimah. Mengembangkan Minat dan Bakat keterampilan bahasa.
2. Menciptakan lingkungan dan kultur sekolah dinamis dan kondusif
4. Motto
Disiplin, Berprestasi dan Berakhlaqul Karimah
5.   Kondisi Objektif Sekolah
a. Jumlah Personil Dewan Guru Dan Karyawan
Tabel 4.1
Data Guru dan Karyawan

No
Guru dan Karyawan
Jumlah
Total
Keterangan
Laki
Pr.
1.
Guru
15
15
30

2.
Karyawan
2
2
4


Total
17
20
34


b.Jumlah Siswa
Tabel 4.2
Data Siswa Tahun Ajaran 2014/2015
No
Kelas
Jumlah
Total
Keterangan
Laki
Pr.
1.
KELAS 1
14
12
26

2.
KELAS 2
17
10
27

3.
KELAS 3
17
16
33

4.
KELAS 4
23
14
37

5.
KELAS 5
21
14
35

6.
KELAS 6
20
20
40


TOTAL
116
89
206



6.   Kegiatan Penunjang
a.   Kegiatan Perpustakaan
Perpustakaan adalah sumber belajar yang dominan. Di perpustakaan inilah guru dan siswa dapat menambah, memperluas, serta memperdalam ilmu pengetahuan mereka dengan kegiatan “Membaca”.
Alhamdulillah, Madrasah Ibtidaiyah Daruttaqwa Suci Manyar Gresik telah dapat mengalokasikan dana untuk penambahan buku-buku penunjang pelajaran. Dan diantara buku yang kami sediakan sebagian kami peruntukkan kepada Bapak/Ibu guru sebagai bahan bacaan untuk menambah wawasan dan keilmuan. Namun kondisi ruang perpustakaan sudah mulai rusak kembali.
b.   Kegiatan BP/BK
Kegiatan BP/BK berkisar pada:
1)      Pengadaan buku inventaris untuk data siswa yang bermasalah
2)      Pembinaan disiplin siswa
3)      Membantu memecahkan masalah siswa
4)      Membantu siswa untuk menyalurkan dan mengembangkan potensi siswa
c.   Ekstrakurikuler
Sederatan kegiatan ekstrakurikuler telah dilaksanakan di Madrasah Ibtidaiyah Daruttaqwa Suci Manyar Gresik, dalam rangka menjembatani siswa untuk dapat mengetahui potensi yang mereka miliki. Madrasah Ibtidaiyah Daruttaqwa Suci Manyar Gresik berupaya maksimal untuk dapat menggali dan mengembangkan bakat dan potensi yang dikandung oleh siswa. Adapun kegiatan ekstrakurikuler yang sudah berjalan adalah sebagai berikut:
1)      Pramuka
2)      B.Inggris
3)      Footsal
7.      Program Kerja Madrasah
a.       Meningkatkan rasa keimanan dan ketaqwaan yang kuat demi terwujudnya prilaku akhlaqul karimahsesuai dengan syariat ahlus sunnah waljamaah bagi siswa
b.      Tercapainya pelaksanaan proses pembelajaran secara aktif dan inovatif, agar mampu menghasilkan siswa yang cerdas, kreatif, mandiri dan bertanggung jawab
c.       Mengembangkan keterampilan berbahasa Inggris, menulis karya ilmiah dan operasional komputer, agar mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai dengan minat dan bakat siswa
d.      Memantapkan jama’ah sholat dluha dan memberikan bimbingan khusus bagi siswa yang belum bisa membaca dan menulis Al Qur’an serta mengembangkan bagi siswa sudah mampu membaca dan menulis dalam bentuk kegiatan tartil dan qiro’ah
e.       Mengembangkan kepribadian manusia yang utuh bagi siswa
f.       Mempersiapkan siswa sebagai bagian dari anggota masyarakat yang mandiri dan berguna
g.      Mempersiapkan siswa dalam melanjutkan pendidikan jenjang lebih lanjut yang terbaik
h.      Membiasakan siswa untuk memiliki kesadaran dalam melaksanakan ibadah wajib maupun ibadah sunnah dan berperilaku akhlaqul karimah
i.        Mengefektifkan kegiatan keagamaan pada setiap peringatan Hari Besar Islam
j.        Menjadikan masjid sebagai sentral kegiatan keagamaan
k.      Menciptakan lingkungan yang islami
l.        Meningkatkan mutu pendidikan dalam rangka mencapai keunggulan dalam penerapan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)
m.    Meningkatkan Tenaga Kependidikan dengan mengikut sertakan secara aktif dalam pelatihan, lokakarya / seminar dan KKG baik tingkat kabupaten / Propinsi maupun Pusat
n.      Menertibkan administrasi pembelajaran
o.      Melaksanakan pembelajaran PAKEM (Pembelajatan yang Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan)
p.      Memanfaatkan sarana penunjang proses pembelajaran
q.      Meningkatkan potensi siswa untuk memiliki kemampuan baik di bidang IPTEK, keterapilan, olah raga, seni dan budaya
r.        Melaksanakan kedisiplinan, ketertiban, dan kerapian secara maksimal
s.       Selalu mengawal kegiatan pembiasaan keagamaan dan kebersihan lingkungan
t.        Memberi pelayanan bimbingan pada siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar, masalah pribadi dan sosial

B.     Penyajian Data Hasil Penelitian
Data yang akan dianalisis dalam penelitian ini adalah data yang bersumber pada responsi responden terhadap kuesioner yang diberikan, selanjutnya berdasarkan hasil penyebaran dari kuesioner yang dilakukan terhadap siswa di Madrasah Ibtidaiyah Daruttaqwa Suci Kecamatan Manyar Gresik yang menjadi obyek dalam penelitian ini, maka sebelum data dianalisa, data dari hasil kuesioner harus memenuhi asumsi valid dan reliabel. Hal ini bertujuan untuk mengetahui apakah pertanyaan-pertanyaan pada kuesioner mampu mengukur pada aspek yang sama dan memiliki konsistensi internal jika pertanyaan-pertanyaan tersebut diajukan pada waktu yang berbeda. Uji yang digunakan adalah uji validitas dan reliabilitas. Uji ini dapat dilakukan melalui bantuan software SPSS versi 13.0 for Windows.
Adapun untuk memperjelas responsi responden terhadap angket/kuesioner yang disebarkan maka berikut akan dikemukakan tabulasi dari rekapitulasi jawaban responden terhadap masing-masing variabel dari kuesioner adalah sebagai berikut:


1. Variabel Metode Belajar Kelompok (X1)
Tabel 4.3
Rekapitulasi Responsi Responden Terhadap
Variabel Metode Belajar Kelompok (X1)
N
X1.1
X1.2
X1.3
X1.4
X1.5
1
4
4
4
4
4
2
4
3
4
4
4
3
5
4
5
5
5
4
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
6
5
5
5
5
5
7
5
4
5
5
5
8
4
4
4
4
4
9
5
5
4
4
5
10
5
5
5
5
5
11
5
5
5
5
5
12
5
5
5
5
5
13
4
4
4
4
4
14
4
3
4
4
4
15
4
4
4
5
4
16
4
4
5
4
4
17
4
4
4
4
4
18
4
3
4
4
4
19
4
4
5
4
4
20
5
4
5
5
5
21
4
3
4
4
4
22
4
3
4
4
4
23
4
5
5
5
4
24
4
4
4
5
4
25
5
4
5
5
5
26
5
5
5
5
5
27
5
5
5
5
5
28
5
4
4
3
5
29
5
5
5
4
5
30
5
5
5
4
5
31
4
4
4
4
4
32
5
4
4
5
5
33
5
5
5
5
5
34
4
5
4
4
4
35
4
4
5
4
4
Sumber: lampiran

Berdasarkan data tabel tersebut di atas, maka dapat diketahui bahwa untuk variabel Metode Belajar Kelompok, yang mana instrument pengumpulan data atau angketnya membawa pesan bahwa komitmen yang tinggi berpengaruh terhadap tingginya tingkat performansi. Selain itu seseorang yang mempunyai tingkat komitmen yang tinggi terhadap organisasinya cenderung untuk bertahan sebagai anggota dalam waktu yang relatif panjang.
Untuk lebih jelasnya berikut akan dikemukakan deskripsi data dari responsi responden terhadap Metode Belajar Kelompok untuk masing-masing atribut dari kuesioner adalah sebagai berikut:
1.      Atribut Proses belajar di Madrasah Ibtidaiyah Daruttaqwa Suci Manyar Gresik menyenangkan, deskripsi jawaban responden dalam menjawab pernyataan/pertanyaan di kuesioner dapat ditabulasikan adalah sebagai berikut:
Tabel 4.4
Deskriptif jawaban responden terhadap Atribut
Angket X1.1


 





            Sumber: Lampiran SPSS
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa 51,4% responden menjawab Sangat Setuju dan 48,6% menjawab Setuju terhadap pertanyaan yang diajukan
2.      Atribut menurut anda Metode Belajar Kelompok sering dilaksanakan di Madrasah Ibtidaiyah Daruttaqwa, deskripsi jawaban responden dalam menjawab pernyataan/pertanyaan di kuesioner dapat ditabulasikan adalah sebagai berikut:

Tabel 4.5

Deskriptif jawaban responden terhadap Atribut
Angket X1.2


 






            Sumber: Lampiran SPSS
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa 45,7% responden menjawab Setuju dan 40% menjawab Sangat Setuju dan 14,3% menjawab Cukup Setuju terhadap pertanyaan yang diajukan
3.      Atribut menurut anda Metode Belajar Kelompok dapat diterapkan dengan baik oleh guru di Madrasah Ibtidaiyah Daruttaqwa, deskripsi jawaban responden dalam menjawab pernyataan/pertanyaan di kuesioner dapat ditabulasikan adalah sebagai berikut:
Tabel 4.6
Deskriptif jawaban responden terhadap Atribut
Angket X1.3


 







      Sumber: Lampiran SPSS

Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa 54,3% responden menjawab Sangat Setuju dan 45,7% menjawab Setuju terhadap pertanyaan yang diajukan
4.      Atribut menurut anda Metode Belajar Kelompok dapat meningkatkan pemahaman terhadap materi pelajaran yang diberikan guru, deskripsi jawaban responden dalam menjawab pernyataan / pertanyaan di kuesioner dapat ditabulasikan adalah sebagai berikut:
Tabel 4.7
Deskriptif jawaban responden terhadap Atribut
Angket X1.4


 








      Sumber: Lampiran SPSS
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa 48,6% responden menjawab Setuju dan Sangat Setuju dan 2,9% menjawab Cukup Setuju terhadap pertanyaan yang diajukan.
5.      Atribut menurut anda Metode Belajar Kelompok dapat meningkatkan prestasi belajar, deskripsi jawaban responden dalam menjawab pernyataan/pertanyaan di kuesioner dapat ditabulasikan adalah sebagai berikut:
Tabel 4.8
Deskriptif jawaban responden terhadap Atribut
Angket X1.5


 







      Sumber: Lampiran SPSS
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa 51,4% responden menjawab Sangat Setuju dan 48,9% menjawab Setuju terhadap pertanyaan yang diajukan.
Selanjutnya untuk rekapitulasi jawaban responden terhadap angket yang menyangkut pembelajaran kontekstual (X2) dapat ditabulasikan sebagai berikut:
2. Penggunaan Pembelajaran Kontekstual (X2)
Tabel 4.9
Rekapitulasi Responsi Responden Terhadap
Variabel Pembelajaran Kontekstual (X2)
N
X2.1
X2.2
X2.3
X2.4
X2.5
1
4
4
4
4
4
2
4
4
4
5
4
3
5
5
4
5
5
4
5
5
5
5
5
5
5
5
5
4
5
6
5
5
5
5
5
7
5
5
4
5
5
8
4
4
4
4
4
9
4
4
5
5
4
10
5
5
5
5
5
11
5
5
5
5
5
12
5
5
5
5
5
13
4
4
4
4
4
14
4
4
3
4
4
15
4
5
4
5
4
16
5
4
4
5
5
17
4
5
5
4
4
18
4
4
4
4
4
19
5
4
4
5
5
20
5
5
4
5
5
21
4
4
4
4
4
22
4
4
3
4
4
23
5
4
5
4
5
24
4
4
4
4
4
25
5
5
4
4
5
26
5
5
5
5
5
27
5
5
5
5
5
28
4
4
4
5
4
29
5
4
5
4
5
30
5
4
5
5
5
31
4
4
4
4
4
32
5
5
4
5
5
33
5
5
5
5
5
34
5
4
5
4
5
35
4
4
4
4
4
Sumber: lampiran

Untuk lebih jelasnya berikut akan dikemukakan deskripsi data dari responsi responden terhadap variabel penggunaan Pembelajaran Kontekstual, untuk masing-masing atribut dari kuesioner adalah sebagai berikut:
1.      Atribut menurut anda Proses belajar di Madrasah Ibtidaiyah Daruttaqwa Suci Manyar Gresik menyenangkan, deskripsi jawaban responden dalam menjawab pernyataan/pertanyaan di kuesioner dapat ditabulasikan adalah sebagai berikut:
Tabel 4.10
Deskriptif jawaban responden terhadap Atribut
Angket X2.1


 





      Sumber: Lampiran SPSS
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa 57,1% responden menjawab Sangat Setuju dan 42,9% menjawab Setuju terhadap pertanyaan yang diajukan
2.      Atribut Guru mengajar dengan sabar dan telaten, deskripsi jawaban responden dalam menjawab pernyataan/pertanyaan di kuesioner dapat ditabulasikan adalah sebagai berikut:

Tabel 4.11
Deskriptif jawaban responden terhadap Atribut
Angket X2.2


 






Sumber: Lampiran SPSS
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa 54,3% responden menjawab Setuju dan 45,7% menjawab Sangat Setuju terhadap pertanyaan yang diajukan
3.      Atribut menurut anda Guru menerapkan berbagai variasi dalam pembelajaran seperti pembelajaran kontekstual, deskripsi jawaban responden dalam menjawab pernyataan/pertanyaan di kuesioner dapat ditabulasikan adalah sebagai berikut:
Tabel 4.12

Deskriptif jawaban responden terhadap Atribut
Angket X2.3


 








      Sumber: Lampiran SPSS
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa 51,4% responden menjawab Setuju, 42,9% menjawab Sangat Setuju dan 5,7% menjawab Cukup setuju terhadap pertanyaan yang diajukan.
4.      Atribut Variasi pembelajaran seperti pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan minat belajar siswa, deskripsi jawaban responden dalam menjawab pernyataan / pertanyaan di kuesioner dapat ditabulasikan adalah sebagai berikut:
Tabel 4.13

Deskriptif jawaban responden terhadap Atribut
Angket X2.4


 








      Sumber: Lampiran SPSS
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa 54,3% responden menjawab sangat Setuju dan 45,7% menjawab Setuju terhadap pertanyaan yang diajukan.
5.      Atribut menurut anda Variasi metode pembelajaran seperti pembelajaran kontekstual dapat mempengaruhi tingkat pemahaman siswa, deskripsi jawaban responden dalam menjawab pernyataan/pertanyaan di kuesioner dapat ditabulasikan adalah sebagai berikut:
Tabel 4.14
Deskriptif jawaban responden terhadap Atribut
Angket X1.5


 







      Sumber: Lampiran SPSS
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa 57,1% responden menjawab Sangat Setuju dan 42,9% menjawab Setuju.
Selanjutnya akan dikemukakan data rata-rata nilai siswa pada Mata pelajaran Fiqih, akan dikemukakan dalam tabulasi sebagai berikut
Tabel 4.15

Hasil Rata-rata nilai Mata pelajaran Fiqih

N
Rerata Ujian Mata pelajaran Fiqih
1
7,35
2
7,10
3
7,60
4
7,50
5
8,70
6
8,20
7
7,70
8
7,50
9
7,55
10
7,65
11
7,60
12
7,35
13
7,65
14
7,35
15
7,00
16
7,60
17
7,45
18
6,90
19
7,00
20
7,70
21
7,60
22
8,10
23
7,50
24
7,90
25
8,40
26
8,50
27
8,65
28
8,80
29
8,70
30
8,20
31
8,10
32
8,65
33
8,70
34
7,20
35
7,75
Sumber: data primer diolah, 2015
C.    Pengujian Validitas
Pengujian validitas diperlukan untuk mengetahui apakah item-item dalam kuisioner dapat mengukur secara tepat variabel-variabel yang diteliti. Validitas instrumen diuji dengan menggunakan teknik korelasi Product Moment. Instrumen dikatakan valid apabila koefisien korelasinya > 0,3 dengan alpha 5% (Sugiyono,2005).
Sedangkan pengujian reliabilitas ditujukan untuk mengetahui apakah instrumen penelitian yang digunakan dapat diterapkan berulangkali pada obyek yang sama. Pengukuran reliabilitas instrumen dapat dilakukan dengan metode Alpha Cronbach (Gujarati, 1995). Instrumen dikatakan reliabel apabila nilai koefisien alpha > 0,6. Dalam uji validitas maupun uji reliabilitas digunakan program SPSS (Statistical Program for Social Sciences) 11.0 for Windows. Selengkapnya hasil uji validitas dan uji reliabilitas instrumen penelitian disajikan dalam tabel berikut: Pengujian validitas dilakukan terhadap variabel Metode Belajar Kelompok, Pembelajaran Kontekstual, terhadap hasil belajar pada Madrasah Ibtidaiyah Daruttaqwa Suci Manyar Gresik.
Suatu atribut dikatakan valid jika nilai Corrected item of total correlation> rtabel dan bernilai positif, Nilai r tabel yang digunakan adalah sebesar 0,2254, karena jumlah responden yang digunakan adalah sebanyak 35 responden, sehingga nilai df = 35 – 2 = 33. Tingkat signifikansi yang digunakan adalah 5%. Sedangkan suatu varibel dikatakan reliabel jika nilai Alpha Cronbach > rtabel. Untuk menentukan nilai rtabel dilihat dari nilai signifikansi sebesar 0,05 (a = 0,05) dengan derajat bebas = df = jumlah responden – 2 = 35 – 2 = 33, sehingga nilai rtabel sebesar 0,2254, Metode Belajar Kelompok(X1), pembelajaran Kontekstual (X2) terhadap variabel terikat yaitu hasil belajar (Y).
a.             Pengujian Validitas Variabel Metode Belajar Kelompok
Variabel Metode Belajar Kelompok pada Madrasah Ibtidaiyah Daruttaqwa Suci Manyar Gresik terdiri dari lima atribut, Hasil uji validitas pada variabel Metode Belajar Kelompok ditampilkan pada tabel berikut :
Tabel 4.16

Hasil Uji Validitas pada Variabel Metode Belajar Kelompok


No
Atribut Metode Belajar Kelompok di Madrasah Ibtidaiyah Daruttaqwa Suci Manyar Gresik
rhitung
rtabel
Kesimpulan
1
Proses belajar di Madrasah Ibtidaiyah Daruttaqwa Suci Manyar Gresik menyenangkan
0,819
0,2254
Valid
2
Metode Belajar Kelompok sering dilaksanakan di Madrasah Ibtidaiyah Daruttaqwa
0,663
0,2254
Valid
3
Metode Belajar Kelompok dapat diterapkan dengan baik oleh guru di Madrasah Ibtidaiyah Daruttaqwa
0,701
0,2254
Valid
4
Metode Belajar Kelompok dapat meningkatkan pemahaman terhadap materi pelajaran yang diberikan guru
0,568
0,2254
Valid
5
Metode Belajar Kelompok dapat meningkatkan prestasi belajar
0,819
0,2254
Valid
Sumber : Data kuesioner yang diolah (Lampiran 2)
Pada tabel di atas didapatkan nilai rhitung untuk seluruh atribut Metode Belajar Kelompok nilainya rhitung nya secara keseuruhan tersebut lebih besar dari nilai rtabel (rhitung > rtabel), sehingga semua atribut tersebut dikatakan valid.



b.             Pengujian Validitas Variabel Pembelajaran Kontekstual
Variabel pembelajaran Kontekstual, ini terdiri dari lima atribut Hasil uji validitas pada variabel Pembelajaran Kontekstual Madrasah Ibtidaiyah Daruttaqwa Suci Manyar Gresik ditampilkan pada tabel berikut :
Tabel 4.17

Hasil Uji Validitas pada Variabel Pembelajaran Kontekstual


No
Atribut Pembelajaran Kontekstual Madrasah Ibtidaiyah Daruttaqwa Suci Manyar Gresik
rhitung
rtabel
Kesimpulan
1
Proses belajar di Madrasah Ibtidaiyah Daruttaqwa Suci Manyar Gresik menyenangkan
0.410
0,2254
Valid
2
Guru mengajar dengan sabar dan telaten
0.547
0,2254
Valid
3
Guru menerapkan berbagai variasi dalam pembelajaran seperti pembelajaran kontekstual
0.514
0,2254
Valid
4
Variasi pembelajaran seperti pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan minat belajar siswa
0,550
0,2254
Valid
5
Variasi metode pembelajaran seperti pembelajaran kontekstual dapat mempengaruhi tingkat pemahaman siswa
0,550
0,2254
Valid
Sumber : Data kuesioner yang diolah
Pada tabel di atas didapatkan nilai rhitung untuk seluruh atribut dari kuesioner yang menyangkut pelaksanaan pembelajaran Kontekstual menurut siswa, diketahui bahwa dari keempat atribut tersebut nilai rhitung nya lebih besar dari nilai rtabel (rhitung > rtabel), sehingga seluruh atribut mengenai pembelajaran Kontekstual tersebut dikatakan valid.





D.    Pengujian Hipotesis
1.       Uji Koefisien Korelasi
Untuk mengetahui keeratan hubungan antar variabel digunakan analisis korelasi. Hal ini untuk mengetahui apakah hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat yang dianalisis kuat atau rendah dan searah atau tidak. Karena apabila hubungan tersebut kuat dan searah, maka analisis selanjutnya dapat dilakukan. Sebaliknya apabila hubungan yang dianalisis lemah maka dapat dipastikan pengaruh antar variabel juga sangat rendah. Hasil uji korelasi terhadap variabel penelitian dapat dilihat pada tabel 4.18.
Tabel 4.18
Uji Koefisien Korelasi


Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed)

Sumber : Data Hasil Penelitian Diolah Penulis

Tabel di atas menunjukkan bahwa nilai korelasi antara variabel Metode Belajar Kelompok (X1) dengan hasil belajar (Y) sangat tinggi. Begitu juga nilai korelasi antara variabel pembelajaran Kontekstual (X2) dengan hasil belajar (Y). Kedua nilai korelasi yang ditunjukkan pada tabel 4.18 bernilai positif berarti korelasi antar variabel tersebut signifikan. Hal ini dapat diartikan bahwa hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat penelitian sangat kuat dan searah, dimana jika terjadi kenaikan pada variabel Metode Belajar Kelompok (X1) dan pembelajaran Kontekstual (X2) akan diikuti kenaikan pada variabel hasil belajar (Y). Berdasarkan hasil tersebut maka dapat diduga bahwa kedua variabel bebas memiliki hubungan yang signifikan terhadap variabel hasil belajar.
2.             Uji Koefisien Determinant
Koefisien determinasi (R2) berguna untuk mengukur ketepatan atau kecocokan suatu garis regresi yang diterapkan terhadap suatu kelompok data hasil observasi. Makin besar nilai R2 dikatakan model regresi semakin tepat atau cocok, sebaliknya makin kecil nilai R2 dikatakan model regresi tidak tepat untuk mewakili data hasil observasi. Selain itu, R2 juga berguna untuk mengukur proporsi atau persentase dari jumlah variasi Y yang dapat diterangkan oleh model regresi. Hasil uji koefisien determinant simultan dapat dilihat pada tabel 4.19.
Tabel 4.19
Uji Koefisien Determinant Simultan



Sumber : Data Hasil Penelitian Diolah Penulis (Lampiran 3)

Tabel di atas menunjukkan bahwa nilai korelasi berganda antara variabel bebas dengan variabel terikat sebesar 0,576. Nilai korelasi tersebut bernilai positif dan mendekati satu. Hal ini membuktikan bahwa hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat cukup kuat dan searah. Hasil tersebut juga mengindikasikan bahwa variabel Metode Belajar Kelompok (X1) dan pembelajaran Kontekstual (X2) secara simultan berhubungan signifikan terhadap variabel hasil belajar (Y).
Adanya nilai korelasi berganda (multiple correlation) sebesar 0,576 mengakibatkan nilai koefisien determinant (R2) sebesar 0,331, karena nilai koefisien determinant merupakan kuadrat dari nilai korelasi berganda. Nilai tersebut menjelaskan bahwa besarnya keragaman data yang mampu dijelaskan oleh variabel bebas dalam model sebesar 33,1%. Sedangkan 65,9% lainnya mampu dijelaskan oleh variabel atau faktor lain yang tidak terdapat dalam model. Sedangkan nilai terkoreksi dari koefisien determinant (R2-adjusted) sebesar 0,290 artinya ketepatan model dalam menjelaskan keragaman data sebesar 29%.

3.             Uji Asumsi Klasik Permodelan Regresi
Secara statistik, model persamaan regresi yang diajukan beserta hasil pengujian hipotesisnya sudah dapat dikatakan memenuhi syarat, dalam arti eratnya hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Akan tetapi, agar model persamaan tersebut dapat diterima secara ekonometrika dari estimator-estimator yang diperoleh dengan metode kuadrat terkecil (OLS) dan memenuhi syarat Best Linear Unbiased Estimation (BLUE), maka harus juga memenuhi asumsi bebas dari multikolinearitas, heteroskedastisitas dan autokorelasi.
a.      Uji Normalitas
Dalam sebuah statistik parametrik, maka diisyaratkan data yang dipergunakan harus berdistribusi normal, atau memiliki tingkat nbormalitas data yang cukup signifikan, dalam penelitian ini yang mana menggunakanstatistik parametrik dalam pengolahan analisis datanya, maka keberadaan data berdistribusi normal mutalk diperlukan.
Pengujian normalitas data dalam penelitian dapat dilakuakan dengan menggunakan prosedur dan teknik statistik, salah satunya adalah menggunakan uji normalitas data dengan metode Kolmogorov Smirnov (K-S), untuk mengetahui data berdistribusi normal atau tidak maka dapat diketahui dar nilai K-S nya atau tingkat (p-value) sig yang harus di atas 5 %, adapun hasil pengujian normalitas data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 4.20
Uji Normalitas





Berdasarkan hasil penggjian dengan metode K-S diketahui bahwa nilai p-value(sig) masing-masing variabel dalam penelitian ini ternyata semuanya berada di atas 5%, yaitu 0,659 sehingga dapat dikemukakan bahawa seluruh data dalam penelitian ini berasumsi normal.
b.      Uji Multikolinearitas
Salah satu asumsi model regresi linear klasik adalah tidak terjadinya multikolinearitas antara sesama variabel bebas yang ada dalam modal atau dapat dikatakan tidak adanya hubungan linear yang sempurna antara variabel bebas yang ada dalam model. Pengertian multikolinearitas adalah terjadinya korelasi yang sempurna maupun korelasi tidak sempurna tetapi relatif sangat tinggi pada variabel bebas yang ada dalam penelitian ini.
Adanya multikolinearitas sempurna akan berakibat bahwa koefisien regresi tidak dapat ditentukan serta standar deviasi akan menjadi tak terhingga. Jika multikolinearitas kurang sempurna, maka koefisien regresi meskipun berhingga akan mempunyai standar deviasi yang besar, yang berarti pula koefisien-koefisiennya tidak dapat ditaksirkan dengan mudah.
Untuk mendeteksi multikolinieritas tersebut menurut Gujarati (1993:166) salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menguji adanya multikolinieritas dapat dilihat dari nilai VIF (Variance Inflation Factor). Jika nilai VIF lebih besar dari 10, maka variabel tersebut mempunyai persoalan multikolinieritas dengan variabel bebas yang lainnya. Pada penelitian ini diperoleh nilai VIF sebesar 6,295 (lampiran SPSS) pada masing-masing variabel bebas. Nilai tersebut kurang dari 10, sehingga disimpulkan bahwa berdasarkan VIF, tidak terjadi kasus multikolinearitas pada model regresi yang diperoleh.
Berdasarkan uji multikolinearitas yang telah dilakukan maka disimpulkan bahwa model regresi yang diperoleh pada penelitian ini bebas dari gangguan multikolinearitas. Hal ini dibuktikan dengan uji multikolinearitas berdasarkan nilai VIF.
c.       Uji Heteroskedastisitas
Uji asumsi regresi berganda, heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual dari suatu pengamatan ke pengamatan lainnya. Model regresi yang baik adalah model yang tidak terjadi heteroskedatisitas di dalamnya.
Untuk mendeteksi ada tidaknya gejala heteroskedastisitas terdapat beberapa metode yang dapat digunakan, seperti metode Grafik, Park, Gleyser, Barlett dan Rank Spearman. Dalam penelitian ini digunakan metode Rank Spearman. Dengan menggunakan metode ini, gejala heteroskedastisitas akan ditunjukkan oleh tingginya rIex masing-masing variabel independensi, dimana korelasi dilakukan antara variabel bebas dengan data residual. Hasil uji korelasi dengan Rank Spearman dapat dilihat pada tabel 4.21. Adapun hipotesa yang digunakan adalah sebagai berikut :
H0 : Tidak terjadi kasus heteroskedastisitas
H1 : Terjadi kasus heteroskedastisitas
H0 ditolak jika nilai P-value > 0,05.


Tabel 4.21

Uji Heteroskedastisitas dengan Korelasi Rank Spearman


Sumber : Data Hasil Penelitian Diolah Penulis (Lampiran 3)

Tabel 4.21 menunjukkan bahwa besarnya nilai korelasi antara variabel bebas dan data residual sangat kecil dan mendekati nol. Selain itu nilai P-value yang diperoleh lebih besar dari 0,05. Berdasarkan nilai korelasi dan P-value maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi kasus heteroskedastisitas. Dengan kata lain varians residual dari suatu pengamatan ke pengamatan lainnya pada model regresi adalah sama (homoskedasticity).
d.      Uji Autokorelasi
Penggunaan uji autokorelasi dimaksudkan untuk mengetahui apakah terjadi korelasi antara anggota serangkaian data observasi yang diurutkan menurut waktu (time series) atau ruang (cross sectional). Jika suatu model regresi terjadi kasus autokorelasi, maka akan menyebabkan uji F dan uji t menjadi tidak akurat. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya korelasi ini dapat dilakukan dengan menggunakan uji Durbin Watson (DW). Pada penelitian ini diperoleh nilai DW sebesar 2,430
Pendeteksian autokorelasi dapat dilakukan dengan menggunakan metode statistik dari Durbin-Watson (Uji DW) dengan ketentuan sebagai berikut (Algifari, 1997:79):
Pertama           : Nilai DW < 1,10 : ada autokorelasi
Kedua              : Nilai DW antara 1,10 dan 1,54 : tanpa kesimpulan
Ketiga             : Nilai DW antara 1,55 dan 2,50 : tidak ada autokorelasi
Keempat          : Nilai DW antara 2,51 dan 2,90 : tanpa kesimpulan
Kelima             : nilai DW > 2,91 : ada autokorelasi
Berdasarkan ketentuan di atas, maka nilai DW yang diperoleh masuk dalam ketentuan ketiga, sehingga disimpulkan tidak terjadi kasus autokorelasi pada data residual.
4.             Analisis Regresi Linear Berganda
Analisis regresi linear berganda pada penelitian ini digunakan untuk mengetahui pengaruh dari Metode Belajar Kelompok (X1) dan pembelajaran Kontekstual (X2) terhadap hasil belajar (Y) pada siswa di Madrasah Ibtidaiyah Daruttaqwa Suci Manyar Gresik. Model yang dihasilkan dari regresi linear berganda adalah sebagai berikut:
Y = a + b1X1 + b2X2 + e
Untuk mengetahui besarnya konstanta dan masing-masing koefisien variabel bebas pada hasil analisis regresi linear berganda digunakan tabel Coefficients yang dapat diringkas dalam bentuk tabel 4.22.
Tabel 4.22
Koefisien Regresi


Sumber : Data Hasil Penelitian Diolah Penulis
Berdasarkan tabel 4.22. maka dapat disusun suatu model regresi yang menjelaskan hubungan antara variabel Metode Belajar Kelompok (X1), pembelajaran Kontekstual (X2) dan hasil belajar (Y). Model regresi tersebut adalah sebagai berikut :
Y = a + b1X1 + b2X2 + e
Y = 6,153+ 1,497X1 - 1,115X2 + e
Model tersebut menjelaskan bahwa jika variabel Metode Belajar Kelompok (X1) dan pembelajaran Kontekstual (X2) bernilai nol, maka besarnya variabel hasil belajar (Y) yang ada adalah sebesar 6,153. Jika variabel Metode Belajar Kelompok (X1) meningkat sebesar satu satuan, maka besarnya variabel hasil belajar (Y) akan meningkat sebesar 1,497, dengan asumsi besarnya variabel pembelajaran Kontekstual (X2) tetap atau konstan.
Sedangkan jika variabel pembelajaran Kontekstual yang meningkat sebesar satu satuan, maka variabel hasil belajar (Y) akan meningkat sebesar -1,115 dengan asumsi besarnya variabel Metode Belajar Kelompok (X1) tetap atau konstan.
5.             Uji F
Berdasarkan model regresi yang diperoleh dapat diketahui bahwa adanya dugaan pada hasil uji korelasi sebelumnya terbukti. Namun kesignifikansian dari pengaruh masing-masing variabel bebas, baik secara simultan maupun parsial, dapat dibuktikan lebih lanjut pada uji F untuk uji simultan dan uji t untuk uji parsial.
H0 : βi = 0 :      Variabel Metode Belajar Kelompok dan pembelajaran Kontekstual secara simultan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel hasil belajar.
H1 : βi ≠ 0 :      Variabel Metode Belajar Kelompok dan pembelajaran Kontekstual secara simultan berpengaruh terhadap variabel hasil belajar.
H0 akan ditolak jika nilai Fhitung > Ftabel. Untuk menentukan nilai Ftabel maka harus diketahui nilai toleransi kesalahan (a) dan derajat bebas (df) yang digunakan. Pada penelitian ini digunakan toleransi kesalahan (a) sebesar 5% dengan derajat bebas regresi (df1) sebesar k = jumlah variabel = 2, dan derajat bebas residual (df2) sebesar n – k – 1 = 35 – 2 – 1 = 32, sehingga diperoleh nilai F­tabel­ sebesar 3,29. Hasil perhitungan uji F dapat dilihat pada tabel 4.23.


Tabel 4.23
Uji-F




Sumber : Data Hasil Penelitian Diolah Penulis (Lampiran 3)
            Tabel 4.23. menunjukkan bahwa berdasarkan perhitungan yang ada diperoleh nilai F sebesar 7,930. Selain itu nilai P-value yang diperoleh kurang dari 0,05. Berdasarkan kedua nilai tersebut maka disimpulkan bahwa variabel Metode Belajar Kelompok (X1) dan pembelajaran Kontekstual (X2) secara simultan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel hasil belajar (Y), karena nilai Fhitung (7,930) > Ftabel (3,29) dan nilai P-value (0,01) < a (0,05).

6.             Uji t
Uji t digunakan untuk mengetahui pengaruh dari Metode Belajar Kelompok (X1) dan pembelajaran Kontekstual (X2) terhadap variabel hasil belajar (Y) pada siswa di Madrasah Ibtidaiyah Daruttaqwa Suci Manyar Gresik. Adapun hipotesa yang digunakan untuk menguji pengaruh variable Metode Belajar Kelompok (X1) dan pembelajaran Kontekstual (X2) secara parsial terhadap hasil belajar (Y) pada siswa di Madrasah Ibtidaiyah Daruttaqwa Suci Manyar Gresik adalah sebagai berikut:

Variabel Metode Belajar Kelompok

H0 : b1 = 0 : Variabel Metode Belajar Kelompok secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar (Y).
H1 : b1 ¹ 0 :  Variabel Metode Belajar Kelompok secara parsial berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar (Y).

Variabel pembelajaran Kontekstual (X2)

H0 : b2 = 0 : Variabel pembelajaran Kontekstual (X2) secara parsial tidak berpengaruh signifikan hasil belajar (Y).
H1 : b2 ¹ 0 :  Variabel pembelajaran Kontekstual (X2) secara parsial berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar (Y).
Dalam uji t digunakan level of significant sebesar (α) 5% atau α = 0,05 dengan derajat bebas (df) sebesar n – k – 1 = 35 – 2 – 1 = 32, dan uji t yang dilakukan uji dua arah, sehingga diperoleh nilai ttabel sebesar 1,6939. Untuk menilai apakah Ho yang diterima ditolak, ditentukan kriteria sebagai berikut :
a.         Hipotesa Ho diterima dan H1 ditolak, apabila t hitung < t tabel atau -thitung > -ttabel
b.        Hipotesa Ho ditolak dan H1 diterima, apabila t hitung > t tabel atau -thitung < -ttabel
Hasil uji t terhadap dua variabel Metode Belajar Kelompok (X1) dan pembelajaran Kontekstual (X2) dapat dilihat pada tabel 4.24.

Tabel 4.24

Uji t

Variabel
thitung
ttabel
Keputusan
Kesimpulan
Metode Belajar Kelompok (X1)
3,397
1,6939
H0 ditolak
Signifikant
Pembelajaran Kontekstual (X2)
2,286
1,6939
H0 ditolak
Signifikant
Sumber : Data Hasil Penelitian Diolah Penulis (Lampiran 3)
Tabel.di atas menunjukkan bahwa pada hasil analisis regresi linear berganda diperoleh nilai thitung untuk variabel Metode Belajar Kelompok (X1) sebesar 3,397 dan untuk variabel pembelajaran Kontekstual (X2) sebesar 2,286  nilai ttabel sebesar 1,6939, sehingga diputuskan untuk menerima H1 dan menyimpulkan bahwa variabel Metode Belajar Kelompok secara parsial berpengaruh terhadap hasil belajar dan untuk variabel pembelajaran Kontekstual (X2) secara parsial berpengaruh terhadap hasil belajar (Y).
Untuk mengetahui variabel bebas yang berpengaruh dominan terhadap hasil belajar (Y) digunakan t­hitung terbesar. Pada tabel di atas, nilai thitung terbesar dimiliki oleh variabel pembelajaran Kontekstual, sehingga diputuskan bahwa variabel yang berpengaruh dominan terhadap variabel hasil belajar (Y) adalah variabel pembelajaran Kontekstual.

E.     Pembahasan Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil analisis dan pengujian hipotesis yang dilakukan diketahui bahwa ditemukan beberapa hal yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti dalam tesis ini yaitu Metode Belajar Kelompok, pembelajaran Kontekstual dan hasil belajar.
Metode Belajar kelompok adalah pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang saling asah, silih asih, dan silih asuh antara sesama siswa sebagai latihan hidup dalam masyarakat nyata. Metode Belajar kelompok merupakan pendekatan pembelajaran melalui kelompok kecil siswa untuk bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar.
Dari hasil pengamatan di Madrasah Ibtidaiyah Daruttaqwa Suci Manyar Gresik yang bertujuan untuk mengetahui apakah kedua metode tersebut berpengaruh terhadap hasil belajar siswa pada khususnya untuk mata pelajaran akidah akhlak maka diketahui dengan analisa statistik yang menunjukkan bahwa Metode Belajar Kelompok dan pembelajaran kontekstual berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar siswa. Hal ini berdasarkan perhitungan yang ada diperoleh nilai F sebesar 7,930. Selain itu nilai P-value yang diperoleh kurang dari 0,05. Berdasarkan kedua nilai tersebut maka disimpulkan bahwa variabel Metode Belajar Kelompok (X1) dan pembelajaran Kontekstual (X2) secara simultan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel hasil belajar (Y), karena nilai Fhitung (7,930) > Ftabel (3,29) dan nilai P-value (0,01) < a (0,05).
Dari hasil analisis uji-t diketahui bahwa Metode Belajar Kelompok dan pembelajaran Kontekstual dapat membawa pengaruh yang positif dan signifikan terhadap hasil belajar karena hasil perhitungan t-hitung adalah lebih besar dari t-tabel.
Jadi kesimpulannya adalah terdapat pengaruh Metode Belajar Kelompok dan pembelajaran Kontekstual terhadap hasil belajar di Madrasah Ibtidaiyah Daruttaqwa Suci Manyar Gresik dan pengaruhnya signifikan, artinya pelaksanaan kedua metode pembelajaran tersebut dapat memberikan dampak yang cukup positif terhadap hasil belajar.