HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.
Deskripsi Obyek Penelitian
1.
Identitas Sekolah
Nama Sekolah : Madrasah
Ibtidaiyah Daruttaqwa
Status : Terakreditasi “ A “
Alamat : Jl. KH. Syafi`i, Gg. KH. Syaikhuna, Suci Manyar Gresik Telp.
031-72411040
Kecamatan : Manyar
Kabupaten : Gresik
Kode Pos : 61151
NSS/NSM : 111235250340
Tahun Berdiri : 1995
Waktu Belajar : Pagi
2.
Sejarah Singkat
|
Pondok Pesantren Daruttaqwa Suci Manyar Gresik Jawa Timur semenjak
berdiri tahun 1987 telah mengelola pendidikan sekolah diniyah maupun pendidikan
Formal dari tingkat pra sekolah sampai perguruan tinggi yakni RA Muslimat 180
Daruttaqwa (berdiri tahun 1995/1996) MI Daruttaqwa ( berdiri tahun 1995/1996),
MTS Daruttaqwa ( berdiri tahun 1994/1995), MA Daruttaqwa (berdiri tahun
1995/1996) dan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Daruttaqwa (berdiri tahun
1998/1999).
Lembaga Pendidikan Madrasah Ibtida`iyah Ma`arif Daruttaqwa Suci Manyar
Gresik merupakan lembaga pendidikan yang berdiri pada tahun 1995 yang sekarang
berstatus “terakreditasi A”, Alhamdulillah dalam perjalannya dari tahun ketahun
semakin mendapat kepercayaan dari masyarakat, ini terbukti dari jumlah siswa
yang selalu bertambah. Kondisi Madrasah Ibtida`iyah Ma`arif Daruttaqwa dari
segi kesiapan manajemen untuk sementara dirasa memadai, karena semua
pengelolaannya telah memenuhi kualifikasi sebagai pengelola pendidikan. Namun dari
segi kelengkapan kebutuhan fisik dan perlengkapan pendidikan masih belum
memenuhi kriteria lembaga pendidikan Islam yang ideal yang kondusif sebagai
wahana proses pendidikan secarta efektif.
Upaya pemenuhan dan penyempurnaan kebutuhan fisik dan perlengkapan
pendidikan sudah dilaksanakan secara bertahap namun selalu ada hambatan,
utamanya mengenai masih kurangnya pendanaan. Oleh karena itu kami semua pengelola
masih sangat membutuhkan bantuan dari semua pihak.
3.
Visi, Misi, Dan Tujuan
Visi:
Terbentuknya Siswa/i yang Beriman, Bertaqwa, Berilmu, Berprestasi dan
Berakhlaqul Karimah.
Misi
a)
Menyiapkan generasi yang memiliki keselarasan di
bidang IMTAQ DAN IPTEK.
b)
Mengembangkan dan melaksanakan pembelajaran dan
bimbingan secara efaktif, kreatif dan inovatif dengan berorientasi pada CTL dan
PAKEMI
c)
Berprestasi di bidang Akademik dan Non akademik.
d)
Melaksanakan pendidikan yang
bernuansa Islami agar terbentuk Akhlaq yang mulia
e) Meningkatkan kesadaran wali murid dan masyarakat tentang pentingnya
pendidikan
Tujuan Pendidikan
Membentuk
siswa/i yang memiliki Keimanan, Kecerdasan Berkepribadian dan Berakhlaqul
Karimah serta mempersiapkan siswa/i melanjutkan ke jenjang pendidikan yang
lebih tinggi lagi.
Tujuan Secara khusus tujuan
pendidikan MI Daruttaqwa adalah:
1. Mencetak Lulusan Yang berilmu,
beriman, bertaqwa, beramal, dan berakhlakul karimah. Mengembangkan Minat dan
Bakat keterampilan bahasa.
2. Menciptakan lingkungan dan kultur
sekolah dinamis dan kondusif
4. Motto
Disiplin, Berprestasi
dan Berakhlaqul Karimah
5. Kondisi
Objektif Sekolah
a.
Jumlah
Personil Dewan Guru Dan Karyawan
Tabel 4.1
Data Guru dan Karyawan
No
|
Guru dan Karyawan
|
Jumlah
|
Total
|
Keterangan
|
|
Laki
|
Pr.
|
||||
1.
|
Guru
|
15
|
15
|
30
|
|
2.
|
Karyawan
|
2
|
2
|
4
|
|
Total
|
17
|
20
|
34
|
||
b.Jumlah Siswa
Tabel 4.2
Data Siswa Tahun Ajaran
2014/2015
No
|
Kelas
|
Jumlah
|
Total
|
Keterangan
|
|
Laki
|
Pr.
|
||||
1.
|
KELAS 1
|
14
|
12
|
26
|
|
2.
|
KELAS 2
|
17
|
10
|
27
|
|
3.
|
KELAS 3
|
17
|
16
|
33
|
|
4.
|
KELAS 4
|
23
|
14
|
37
|
|
5.
|
KELAS 5
|
21
|
14
|
35
|
|
6.
|
KELAS 6
|
20
|
20
|
40
|
|
TOTAL
|
116
|
89
|
206
|
||
6. Kegiatan
Penunjang
a. Kegiatan Perpustakaan
Perpustakaan
adalah sumber belajar yang dominan. Di perpustakaan inilah guru dan siswa dapat
menambah, memperluas, serta memperdalam ilmu pengetahuan mereka dengan kegiatan
“Membaca”.
Alhamdulillah,
Madrasah Ibtidaiyah Daruttaqwa Suci Manyar Gresik telah dapat mengalokasikan
dana untuk penambahan buku-buku penunjang pelajaran. Dan diantara buku yang
kami sediakan sebagian kami peruntukkan kepada Bapak/Ibu guru sebagai bahan
bacaan untuk menambah wawasan dan keilmuan. Namun kondisi ruang perpustakaan
sudah mulai rusak kembali.
b. Kegiatan BP/BK
Kegiatan
BP/BK berkisar pada:
1) Pengadaan buku
inventaris untuk data siswa yang bermasalah
2) Pembinaan disiplin
siswa
3) Membantu memecahkan
masalah siswa
4) Membantu siswa untuk
menyalurkan dan mengembangkan potensi siswa
c. Ekstrakurikuler
Sederatan
kegiatan ekstrakurikuler telah dilaksanakan di Madrasah Ibtidaiyah Daruttaqwa
Suci Manyar Gresik, dalam rangka menjembatani siswa untuk dapat mengetahui
potensi yang mereka miliki. Madrasah Ibtidaiyah Daruttaqwa Suci Manyar Gresik
berupaya maksimal untuk dapat menggali dan mengembangkan bakat dan potensi yang
dikandung oleh siswa. Adapun kegiatan ekstrakurikuler yang sudah berjalan
adalah sebagai berikut:
1) Pramuka
2) B.Inggris
3) Footsal
7.
Program Kerja Madrasah
a. Meningkatkan rasa
keimanan dan ketaqwaan yang kuat demi terwujudnya prilaku akhlaqul
karimahsesuai dengan syariat ahlus sunnah waljamaah bagi siswa
b. Tercapainya
pelaksanaan proses pembelajaran secara aktif dan inovatif, agar mampu
menghasilkan siswa yang cerdas, kreatif, mandiri dan bertanggung jawab
c. Mengembangkan
keterampilan berbahasa Inggris, menulis karya ilmiah dan operasional komputer,
agar mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai
dengan minat dan bakat siswa
d. Memantapkan jama’ah
sholat dluha dan memberikan bimbingan khusus bagi siswa yang belum bisa membaca
dan menulis Al Qur’an serta mengembangkan bagi siswa sudah mampu membaca dan
menulis dalam bentuk kegiatan tartil dan qiro’ah
e. Mengembangkan
kepribadian manusia yang utuh bagi siswa
f. Mempersiapkan siswa
sebagai bagian dari anggota masyarakat yang mandiri dan berguna
g. Mempersiapkan siswa
dalam melanjutkan pendidikan jenjang lebih lanjut yang terbaik
h. Membiasakan siswa
untuk memiliki kesadaran dalam melaksanakan ibadah wajib maupun ibadah sunnah
dan berperilaku akhlaqul karimah
i.
Mengefektifkan kegiatan keagamaan pada setiap
peringatan Hari Besar Islam
j.
Menjadikan masjid sebagai sentral kegiatan
keagamaan
k. Menciptakan
lingkungan yang islami
l.
Meningkatkan mutu pendidikan dalam rangka mencapai
keunggulan dalam penerapan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)
m. Meningkatkan Tenaga
Kependidikan dengan mengikut sertakan secara aktif dalam pelatihan, lokakarya /
seminar dan KKG baik tingkat kabupaten / Propinsi maupun Pusat
n. Menertibkan administrasi
pembelajaran
o. Melaksanakan
pembelajaran PAKEM (Pembelajatan yang Aktif, Kreatif, Efektif, dan
Menyenangkan)
p. Memanfaatkan sarana
penunjang proses pembelajaran
q. Meningkatkan potensi
siswa untuk memiliki kemampuan baik di bidang IPTEK, keterapilan, olah raga,
seni dan budaya
r.
Melaksanakan kedisiplinan, ketertiban, dan
kerapian secara maksimal
s. Selalu mengawal
kegiatan pembiasaan keagamaan dan kebersihan lingkungan
t.
Memberi pelayanan bimbingan pada siswa yang
mengalami kesulitan dalam belajar, masalah pribadi dan sosial
B.
Penyajian Data Hasil
Penelitian
Data yang akan dianalisis
dalam penelitian ini adalah data yang bersumber pada responsi responden
terhadap kuesioner yang diberikan, selanjutnya berdasarkan hasil penyebaran
dari kuesioner yang dilakukan terhadap siswa di Madrasah Ibtidaiyah Daruttaqwa
Suci Kecamatan Manyar Gresik yang menjadi obyek dalam penelitian ini, maka
sebelum data dianalisa, data dari hasil kuesioner harus memenuhi asumsi valid
dan reliabel. Hal ini bertujuan untuk mengetahui apakah pertanyaan-pertanyaan
pada kuesioner mampu mengukur pada aspek yang sama dan memiliki konsistensi
internal jika pertanyaan-pertanyaan tersebut diajukan pada waktu yang berbeda.
Uji yang digunakan adalah uji validitas dan reliabilitas. Uji ini dapat
dilakukan melalui bantuan software SPSS versi 13.0 for Windows.
Adapun untuk memperjelas
responsi responden terhadap angket/kuesioner yang disebarkan maka berikut akan
dikemukakan tabulasi dari rekapitulasi jawaban responden terhadap masing-masing
variabel dari kuesioner adalah sebagai berikut:
1. Variabel Metode Belajar Kelompok (X1)
Tabel 4.3
Rekapitulasi Responsi
Responden Terhadap
Variabel Metode Belajar
Kelompok (X1)
N
|
X1.1
|
X1.2
|
X1.3
|
X1.4
|
X1.5
|
1
|
4
|
4
|
4
|
4
|
4
|
2
|
4
|
3
|
4
|
4
|
4
|
3
|
5
|
4
|
5
|
5
|
5
|
4
|
5
|
5
|
5
|
5
|
5
|
5
|
5
|
5
|
5
|
5
|
5
|
6
|
5
|
5
|
5
|
5
|
5
|
7
|
5
|
4
|
5
|
5
|
5
|
8
|
4
|
4
|
4
|
4
|
4
|
9
|
5
|
5
|
4
|
4
|
5
|
10
|
5
|
5
|
5
|
5
|
5
|
11
|
5
|
5
|
5
|
5
|
5
|
12
|
5
|
5
|
5
|
5
|
5
|
13
|
4
|
4
|
4
|
4
|
4
|
14
|
4
|
3
|
4
|
4
|
4
|
15
|
4
|
4
|
4
|
5
|
4
|
16
|
4
|
4
|
5
|
4
|
4
|
17
|
4
|
4
|
4
|
4
|
4
|
18
|
4
|
3
|
4
|
4
|
4
|
19
|
4
|
4
|
5
|
4
|
4
|
20
|
5
|
4
|
5
|
5
|
5
|
21
|
4
|
3
|
4
|
4
|
4
|
22
|
4
|
3
|
4
|
4
|
4
|
23
|
4
|
5
|
5
|
5
|
4
|
24
|
4
|
4
|
4
|
5
|
4
|
25
|
5
|
4
|
5
|
5
|
5
|
26
|
5
|
5
|
5
|
5
|
5
|
27
|
5
|
5
|
5
|
5
|
5
|
28
|
5
|
4
|
4
|
3
|
5
|
29
|
5
|
5
|
5
|
4
|
5
|
30
|
5
|
5
|
5
|
4
|
5
|
31
|
4
|
4
|
4
|
4
|
4
|
32
|
5
|
4
|
4
|
5
|
5
|
33
|
5
|
5
|
5
|
5
|
5
|
34
|
4
|
5
|
4
|
4
|
4
|
35
|
4
|
4
|
5
|
4
|
4
|
Sumber: lampiran
Berdasarkan data tabel
tersebut di atas, maka dapat diketahui bahwa untuk variabel Metode Belajar
Kelompok, yang mana instrument pengumpulan data atau angketnya membawa pesan
bahwa komitmen yang tinggi berpengaruh terhadap tingginya tingkat performansi.
Selain itu seseorang yang mempunyai tingkat komitmen yang tinggi terhadap
organisasinya cenderung untuk bertahan sebagai anggota dalam waktu yang relatif
panjang.
Untuk lebih jelasnya berikut
akan dikemukakan deskripsi data dari responsi responden terhadap Metode Belajar
Kelompok untuk masing-masing atribut dari kuesioner adalah sebagai berikut:
1.
Atribut Proses belajar
di Madrasah Ibtidaiyah Daruttaqwa Suci Manyar Gresik menyenangkan, deskripsi
jawaban responden dalam menjawab pernyataan/pertanyaan di kuesioner dapat
ditabulasikan adalah sebagai berikut:
Tabel 4.4
Deskriptif jawaban responden terhadap Atribut
Angket X1.1
![]() |
Sumber: Lampiran SPSS
Berdasarkan
tabel di atas, diketahui bahwa 51,4% responden menjawab Sangat Setuju dan 48,6%
menjawab Setuju terhadap pertanyaan yang diajukan
2.
Atribut menurut anda
Metode Belajar Kelompok sering dilaksanakan di Madrasah Ibtidaiyah Daruttaqwa,
deskripsi jawaban responden dalam menjawab pernyataan/pertanyaan di kuesioner
dapat ditabulasikan adalah sebagai berikut:
Tabel 4.5
Deskriptif jawaban responden terhadap Atribut
Angket X1.2
![]() |
Sumber: Lampiran SPSS
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa 45,7%
responden menjawab Setuju dan 40% menjawab Sangat Setuju dan 14,3% menjawab
Cukup Setuju terhadap pertanyaan yang diajukan
3.
Atribut menurut anda
Metode Belajar Kelompok dapat diterapkan dengan baik oleh guru di Madrasah
Ibtidaiyah Daruttaqwa, deskripsi jawaban responden dalam menjawab
pernyataan/pertanyaan di kuesioner dapat ditabulasikan adalah sebagai berikut:
Tabel 4.6
Deskriptif jawaban responden terhadap Atribut
Angket X1.3
![]() |
Sumber: Lampiran SPSS
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa 54,3%
responden menjawab Sangat Setuju dan 45,7% menjawab Setuju terhadap pertanyaan
yang diajukan
4.
Atribut menurut anda
Metode Belajar Kelompok dapat meningkatkan pemahaman terhadap materi pelajaran
yang diberikan guru, deskripsi jawaban responden dalam menjawab pernyataan /
pertanyaan di kuesioner dapat ditabulasikan adalah sebagai berikut:
Tabel 4.7
Deskriptif jawaban responden terhadap Atribut
Angket X1.4
![]() |
Sumber: Lampiran SPSS
Berdasarkan
tabel di atas, diketahui bahwa 48,6% responden menjawab Setuju dan Sangat
Setuju dan 2,9% menjawab Cukup Setuju terhadap pertanyaan yang diajukan.
5.
Atribut menurut anda
Metode Belajar Kelompok dapat meningkatkan prestasi belajar, deskripsi jawaban
responden dalam menjawab pernyataan/pertanyaan di kuesioner dapat ditabulasikan
adalah sebagai berikut:
Tabel 4.8
Deskriptif jawaban responden terhadap Atribut
Angket X1.5
![]() |
Sumber: Lampiran SPSS
Berdasarkan
tabel di atas, diketahui bahwa 51,4% responden menjawab Sangat Setuju dan 48,9%
menjawab Setuju terhadap pertanyaan yang diajukan.
Selanjutnya untuk rekapitulasi
jawaban responden terhadap angket yang menyangkut pembelajaran kontekstual (X2)
dapat ditabulasikan sebagai berikut:
2. Penggunaan Pembelajaran Kontekstual (X2)
Tabel 4.9
Rekapitulasi Responsi
Responden Terhadap
Variabel Pembelajaran
Kontekstual (X2)
N
|
X2.1
|
X2.2
|
X2.3
|
X2.4
|
X2.5
|
1
|
4
|
4
|
4
|
4
|
4
|
2
|
4
|
4
|
4
|
5
|
4
|
3
|
5
|
5
|
4
|
5
|
5
|
4
|
5
|
5
|
5
|
5
|
5
|
5
|
5
|
5
|
5
|
4
|
5
|
6
|
5
|
5
|
5
|
5
|
5
|
7
|
5
|
5
|
4
|
5
|
5
|
8
|
4
|
4
|
4
|
4
|
4
|
9
|
4
|
4
|
5
|
5
|
4
|
10
|
5
|
5
|
5
|
5
|
5
|
11
|
5
|
5
|
5
|
5
|
5
|
12
|
5
|
5
|
5
|
5
|
5
|
13
|
4
|
4
|
4
|
4
|
4
|
14
|
4
|
4
|
3
|
4
|
4
|
15
|
4
|
5
|
4
|
5
|
4
|
16
|
5
|
4
|
4
|
5
|
5
|
17
|
4
|
5
|
5
|
4
|
4
|
18
|
4
|
4
|
4
|
4
|
4
|
19
|
5
|
4
|
4
|
5
|
5
|
20
|
5
|
5
|
4
|
5
|
5
|
21
|
4
|
4
|
4
|
4
|
4
|
22
|
4
|
4
|
3
|
4
|
4
|
23
|
5
|
4
|
5
|
4
|
5
|
24
|
4
|
4
|
4
|
4
|
4
|
25
|
5
|
5
|
4
|
4
|
5
|
26
|
5
|
5
|
5
|
5
|
5
|
27
|
5
|
5
|
5
|
5
|
5
|
28
|
4
|
4
|
4
|
5
|
4
|
29
|
5
|
4
|
5
|
4
|
5
|
30
|
5
|
4
|
5
|
5
|
5
|
31
|
4
|
4
|
4
|
4
|
4
|
32
|
5
|
5
|
4
|
5
|
5
|
33
|
5
|
5
|
5
|
5
|
5
|
34
|
5
|
4
|
5
|
4
|
5
|
35
|
4
|
4
|
4
|
4
|
4
|
Sumber: lampiran
Untuk lebih jelasnya berikut
akan dikemukakan deskripsi data dari responsi responden terhadap variabel
penggunaan Pembelajaran Kontekstual, untuk masing-masing atribut dari kuesioner
adalah sebagai berikut:
1.
Atribut menurut anda Proses belajar di Madrasah Ibtidaiyah
Daruttaqwa Suci Manyar Gresik menyenangkan, deskripsi jawaban responden dalam menjawab pernyataan/pertanyaan di
kuesioner dapat ditabulasikan adalah sebagai berikut:
Tabel 4.10
Deskriptif jawaban responden terhadap Atribut
Angket X2.1
![]() |
Sumber: Lampiran SPSS
Berdasarkan
tabel di atas, diketahui bahwa 57,1% responden menjawab Sangat Setuju dan 42,9%
menjawab Setuju terhadap pertanyaan yang diajukan
2.
Atribut Guru mengajar dengan sabar dan telaten, deskripsi jawaban responden dalam menjawab
pernyataan/pertanyaan di kuesioner dapat ditabulasikan adalah sebagai berikut:
Tabel 4.11
Deskriptif jawaban responden terhadap Atribut
Angket X2.2
![]() |
Sumber: Lampiran SPSS
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa 54,3%
responden menjawab Setuju dan 45,7% menjawab Sangat Setuju terhadap pertanyaan
yang diajukan
3.
Atribut menurut anda Guru menerapkan berbagai variasi dalam
pembelajaran seperti pembelajaran kontekstual, deskripsi jawaban responden dalam menjawab pernyataan/pertanyaan di
kuesioner dapat ditabulasikan adalah sebagai berikut:
Tabel 4.12
Deskriptif jawaban responden terhadap Atribut
Angket X2.3
![]() |
Sumber: Lampiran SPSS
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa 51,4%
responden menjawab Setuju, 42,9% menjawab Sangat Setuju dan 5,7% menjawab Cukup
setuju terhadap pertanyaan yang diajukan.
4.
Atribut Variasi pembelajaran seperti pembelajaran
kontekstual dapat meningkatkan minat belajar siswa, deskripsi jawaban responden dalam menjawab pernyataan / pertanyaan di
kuesioner dapat ditabulasikan adalah sebagai berikut:
Tabel 4.13
Deskriptif jawaban responden terhadap Atribut
Angket X2.4
![]() |
Sumber: Lampiran SPSS
Berdasarkan
tabel di atas, diketahui bahwa 54,3% responden menjawab sangat Setuju dan 45,7%
menjawab Setuju terhadap pertanyaan yang diajukan.
5.
Atribut menurut anda Variasi metode pembelajaran seperti
pembelajaran kontekstual dapat mempengaruhi tingkat pemahaman siswa, deskripsi jawaban responden dalam menjawab
pernyataan/pertanyaan di kuesioner dapat ditabulasikan adalah sebagai berikut:
Tabel 4.14
Deskriptif jawaban responden terhadap Atribut
Angket X1.5
![]() |
Sumber: Lampiran SPSS
Berdasarkan
tabel di atas, diketahui bahwa 57,1% responden menjawab Sangat Setuju dan 42,9%
menjawab Setuju.
Selanjutnya akan dikemukakan
data rata-rata nilai siswa pada Mata pelajaran Fiqih, akan dikemukakan dalam
tabulasi sebagai berikut
Tabel 4.15
Hasil Rata-rata nilai Mata pelajaran Fiqih
N
|
Rerata Ujian Mata pelajaran
Fiqih
|
1
|
7,35
|
2
|
7,10
|
3
|
7,60
|
4
|
7,50
|
5
|
8,70
|
6
|
8,20
|
7
|
7,70
|
8
|
7,50
|
9
|
7,55
|
10
|
7,65
|
11
|
7,60
|
12
|
7,35
|
13
|
7,65
|
14
|
7,35
|
15
|
7,00
|
16
|
7,60
|
17
|
7,45
|
18
|
6,90
|
19
|
7,00
|
20
|
7,70
|
21
|
7,60
|
22
|
8,10
|
23
|
7,50
|
24
|
7,90
|
25
|
8,40
|
26
|
8,50
|
27
|
8,65
|
28
|
8,80
|
29
|
8,70
|
30
|
8,20
|
31
|
8,10
|
32
|
8,65
|
33
|
8,70
|
34
|
7,20
|
35
|
7,75
|
Sumber: data primer diolah, 2015
C.
Pengujian Validitas
Pengujian validitas diperlukan
untuk mengetahui apakah item-item dalam kuisioner dapat mengukur secara tepat
variabel-variabel yang diteliti. Validitas instrumen diuji dengan menggunakan
teknik korelasi Product Moment.
Instrumen dikatakan valid apabila koefisien korelasinya > 0,3 dengan alpha
5% (Sugiyono,2005).
Sedangkan pengujian
reliabilitas ditujukan untuk mengetahui apakah instrumen penelitian yang
digunakan dapat diterapkan berulangkali pada obyek yang sama. Pengukuran
reliabilitas instrumen dapat dilakukan dengan metode Alpha Cronbach (Gujarati,
1995). Instrumen dikatakan reliabel apabila nilai koefisien alpha > 0,6.
Dalam uji validitas maupun uji reliabilitas digunakan program SPSS (Statistical Program for Social Sciences)
11.0 for Windows. Selengkapnya hasil
uji validitas dan uji reliabilitas instrumen penelitian disajikan dalam tabel
berikut: Pengujian validitas dilakukan terhadap variabel Metode Belajar
Kelompok, Pembelajaran Kontekstual, terhadap hasil belajar pada Madrasah
Ibtidaiyah Daruttaqwa Suci Manyar Gresik.
Suatu atribut dikatakan valid
jika nilai Corrected item of total correlation> rtabel dan
bernilai positif, Nilai r tabel yang digunakan adalah sebesar 0,2254, karena
jumlah responden yang digunakan adalah sebanyak 35 responden, sehingga nilai df
= 35 – 2 = 33. Tingkat signifikansi yang digunakan adalah 5%. Sedangkan suatu
varibel dikatakan reliabel jika nilai Alpha Cronbach > rtabel.
Untuk menentukan nilai rtabel dilihat dari nilai signifikansi
sebesar 0,05 (a = 0,05) dengan derajat bebas = df = jumlah
responden – 2 = 35 – 2 = 33, sehingga nilai rtabel sebesar 0,2254,
Metode Belajar Kelompok(X1), pembelajaran Kontekstual (X2)
terhadap variabel terikat yaitu hasil belajar (Y).
a.
Pengujian Validitas Variabel Metode Belajar
Kelompok
Variabel Metode Belajar
Kelompok pada Madrasah Ibtidaiyah Daruttaqwa Suci Manyar Gresik terdiri dari
lima atribut, Hasil uji validitas pada variabel Metode Belajar Kelompok
ditampilkan pada tabel berikut :
Tabel 4.16
Hasil Uji Validitas pada Variabel Metode Belajar Kelompok
No
|
Atribut Metode Belajar Kelompok di Madrasah
Ibtidaiyah Daruttaqwa Suci Manyar Gresik
|
rhitung
|
rtabel
|
Kesimpulan
|
1
|
Proses belajar di Madrasah Ibtidaiyah
Daruttaqwa Suci Manyar Gresik menyenangkan
|
0,819
|
0,2254
|
Valid
|
2
|
Metode Belajar Kelompok sering dilaksanakan di
Madrasah Ibtidaiyah Daruttaqwa
|
0,663
|
0,2254
|
Valid
|
3
|
Metode Belajar Kelompok dapat diterapkan dengan
baik oleh guru di Madrasah Ibtidaiyah Daruttaqwa
|
0,701
|
0,2254
|
Valid
|
4
|
Metode Belajar Kelompok dapat meningkatkan
pemahaman terhadap materi pelajaran yang diberikan guru
|
0,568
|
0,2254
|
Valid
|
5
|
Metode Belajar Kelompok dapat meningkatkan
prestasi belajar
|
0,819
|
0,2254
|
Valid
|
Sumber : Data kuesioner yang diolah (Lampiran 2)
Pada tabel di atas didapatkan
nilai rhitung untuk seluruh atribut Metode Belajar Kelompok nilainya
rhitung nya secara keseuruhan tersebut lebih besar dari nilai rtabel
(rhitung > rtabel), sehingga semua atribut tersebut
dikatakan valid.
b.
Pengujian Validitas Variabel Pembelajaran
Kontekstual
Variabel pembelajaran
Kontekstual, ini terdiri dari lima atribut Hasil uji validitas pada variabel
Pembelajaran Kontekstual Madrasah Ibtidaiyah Daruttaqwa Suci Manyar Gresik
ditampilkan pada tabel berikut :
Tabel 4.17
Hasil Uji Validitas pada Variabel Pembelajaran Kontekstual
No
|
Atribut Pembelajaran Kontekstual Madrasah
Ibtidaiyah Daruttaqwa Suci Manyar Gresik
|
rhitung
|
rtabel
|
Kesimpulan
|
1
|
Proses belajar di Madrasah Ibtidaiyah Daruttaqwa Suci Manyar Gresik
menyenangkan
|
0.410
|
0,2254
|
Valid
|
2
|
Guru mengajar dengan sabar dan telaten
|
0.547
|
0,2254
|
Valid
|
3
|
Guru menerapkan berbagai variasi dalam pembelajaran seperti pembelajaran
kontekstual
|
0.514
|
0,2254
|
Valid
|
4
|
Variasi pembelajaran seperti pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan
minat belajar siswa
|
0,550
|
0,2254
|
Valid
|
5
|
Variasi metode pembelajaran seperti pembelajaran kontekstual dapat
mempengaruhi tingkat pemahaman siswa
|
0,550
|
0,2254
|
Valid
|
Sumber : Data kuesioner yang diolah
Pada tabel di atas didapatkan
nilai rhitung untuk seluruh atribut dari kuesioner yang menyangkut
pelaksanaan pembelajaran Kontekstual menurut siswa, diketahui bahwa dari
keempat atribut tersebut nilai rhitung nya lebih besar dari nilai rtabel
(rhitung > rtabel), sehingga seluruh atribut mengenai
pembelajaran Kontekstual tersebut dikatakan valid.
D.
Pengujian Hipotesis
1.
Uji Koefisien Korelasi
Untuk mengetahui keeratan
hubungan antar variabel digunakan analisis korelasi. Hal ini untuk mengetahui
apakah hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat yang dianalisis
kuat atau rendah dan searah atau tidak. Karena apabila hubungan tersebut kuat
dan searah, maka analisis selanjutnya dapat dilakukan. Sebaliknya apabila
hubungan yang dianalisis lemah maka dapat dipastikan pengaruh antar variabel
juga sangat rendah. Hasil uji korelasi terhadap variabel penelitian dapat
dilihat pada tabel 4.18.
Tabel 4.18
Uji Koefisien Korelasi

Correlation is significant at the 0.01 level
(2-tailed)
Sumber : Data Hasil Penelitian Diolah Penulis
Tabel di atas menunjukkan
bahwa nilai korelasi antara variabel Metode Belajar Kelompok (X1)
dengan hasil belajar (Y) sangat tinggi. Begitu juga nilai korelasi antara
variabel pembelajaran Kontekstual (X2) dengan hasil belajar (Y).
Kedua nilai korelasi yang ditunjukkan pada tabel 4.18 bernilai positif berarti
korelasi antar variabel tersebut signifikan. Hal ini dapat diartikan bahwa
hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat penelitian sangat kuat dan
searah, dimana jika terjadi kenaikan pada variabel Metode Belajar Kelompok (X1)
dan pembelajaran Kontekstual (X2) akan diikuti kenaikan pada
variabel hasil belajar (Y). Berdasarkan hasil tersebut maka dapat diduga bahwa
kedua variabel bebas memiliki hubungan yang signifikan terhadap variabel hasil
belajar.
2.
Uji Koefisien Determinant
Koefisien determinasi (R2)
berguna untuk mengukur ketepatan atau kecocokan suatu garis regresi yang
diterapkan terhadap suatu kelompok data hasil observasi. Makin besar nilai R2
dikatakan model regresi semakin tepat atau cocok, sebaliknya makin kecil nilai
R2 dikatakan model regresi tidak tepat untuk mewakili data hasil
observasi. Selain itu, R2 juga berguna untuk mengukur proporsi atau
persentase dari jumlah variasi Y yang dapat diterangkan oleh model regresi. Hasil uji koefisien determinant simultan dapat
dilihat pada tabel 4.19.
Tabel 4.19
Uji Koefisien Determinant Simultan

Sumber : Data Hasil Penelitian Diolah Penulis (Lampiran 3)
Tabel di atas menunjukkan
bahwa nilai korelasi berganda antara variabel bebas dengan variabel terikat
sebesar 0,576. Nilai korelasi
tersebut bernilai positif dan mendekati satu. Hal ini membuktikan bahwa
hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat cukup kuat dan searah.
Hasil tersebut juga mengindikasikan bahwa variabel Metode Belajar Kelompok (X1)
dan pembelajaran Kontekstual (X2) secara simultan berhubungan
signifikan terhadap variabel hasil belajar (Y).
Adanya nilai korelasi berganda
(multiple correlation) sebesar 0,576
mengakibatkan nilai koefisien determinant (R2) sebesar 0,331, karena
nilai koefisien determinant merupakan kuadrat dari nilai korelasi berganda.
Nilai tersebut menjelaskan bahwa besarnya keragaman data yang mampu dijelaskan
oleh variabel bebas dalam model sebesar 33,1%. Sedangkan 65,9% lainnya mampu
dijelaskan oleh variabel atau faktor lain yang tidak terdapat dalam model.
Sedangkan nilai terkoreksi dari koefisien determinant (R2-adjusted) sebesar 0,290 artinya
ketepatan model dalam menjelaskan keragaman data sebesar 29%.
3.
Uji Asumsi Klasik Permodelan
Regresi
Secara statistik, model
persamaan regresi yang diajukan beserta hasil pengujian hipotesisnya sudah
dapat dikatakan memenuhi syarat, dalam arti eratnya hubungan antara variabel
bebas dengan variabel terikat. Akan tetapi, agar model persamaan tersebut dapat
diterima secara ekonometrika dari estimator-estimator yang diperoleh dengan
metode kuadrat terkecil (OLS) dan memenuhi syarat Best Linear Unbiased Estimation (BLUE), maka harus juga memenuhi
asumsi bebas dari multikolinearitas, heteroskedastisitas dan autokorelasi.
a.
Uji Normalitas
Dalam sebuah statistik
parametrik, maka diisyaratkan data yang dipergunakan harus berdistribusi
normal, atau memiliki tingkat nbormalitas data yang cukup signifikan, dalam
penelitian ini yang mana menggunakanstatistik parametrik dalam pengolahan
analisis datanya, maka keberadaan data berdistribusi normal mutalk diperlukan.
Pengujian normalitas data
dalam penelitian dapat dilakuakan dengan menggunakan prosedur dan teknik
statistik, salah satunya adalah menggunakan uji normalitas data dengan metode
Kolmogorov Smirnov (K-S), untuk mengetahui data berdistribusi normal atau tidak
maka dapat diketahui dar nilai K-S nya atau tingkat (p-value) sig yang harus di
atas 5 %, adapun hasil pengujian normalitas data dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
Tabel 4.20
Uji Normalitas

Berdasarkan hasil penggjian
dengan metode K-S diketahui bahwa nilai p-value(sig)
masing-masing variabel dalam penelitian ini ternyata semuanya berada di atas
5%, yaitu 0,659 sehingga dapat dikemukakan bahawa seluruh data dalam penelitian
ini berasumsi normal.
b.
Uji Multikolinearitas
Salah satu asumsi model
regresi linear klasik adalah tidak terjadinya multikolinearitas antara sesama
variabel bebas yang ada dalam modal atau dapat dikatakan tidak adanya hubungan
linear yang sempurna antara variabel bebas yang ada dalam model. Pengertian
multikolinearitas adalah terjadinya korelasi yang sempurna maupun korelasi
tidak sempurna tetapi relatif sangat tinggi pada variabel bebas yang ada dalam
penelitian ini.
Adanya multikolinearitas
sempurna akan berakibat bahwa koefisien regresi tidak dapat ditentukan serta
standar deviasi akan menjadi tak terhingga. Jika multikolinearitas kurang
sempurna, maka koefisien regresi meskipun berhingga akan mempunyai standar
deviasi yang besar, yang berarti pula koefisien-koefisiennya tidak dapat
ditaksirkan dengan mudah.
Untuk mendeteksi
multikolinieritas tersebut menurut Gujarati (1993:166) salah satu cara yang
dapat dilakukan adalah dengan menguji adanya multikolinieritas dapat dilihat
dari nilai VIF (Variance Inflation Factor).
Jika nilai VIF lebih besar dari 10, maka variabel tersebut mempunyai persoalan
multikolinieritas dengan variabel bebas yang lainnya. Pada penelitian ini
diperoleh nilai VIF sebesar 6,295 (lampiran SPSS) pada masing-masing variabel
bebas. Nilai tersebut kurang dari 10, sehingga disimpulkan bahwa berdasarkan
VIF, tidak terjadi kasus multikolinearitas pada model regresi yang diperoleh.
Berdasarkan uji
multikolinearitas yang telah dilakukan maka disimpulkan bahwa model regresi
yang diperoleh pada penelitian ini bebas dari gangguan multikolinearitas. Hal
ini dibuktikan dengan uji multikolinearitas berdasarkan nilai VIF.
c.
Uji Heteroskedastisitas
Uji asumsi regresi berganda,
heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi
terjadi ketidaksamaan varians dari residual dari suatu pengamatan ke pengamatan
lainnya. Model regresi yang baik adalah model yang tidak terjadi heteroskedatisitas
di dalamnya.
Untuk mendeteksi ada tidaknya
gejala heteroskedastisitas terdapat beberapa metode yang dapat digunakan,
seperti metode Grafik, Park, Gleyser, Barlett dan Rank Spearman. Dalam
penelitian ini digunakan metode Rank Spearman. Dengan menggunakan metode ini,
gejala heteroskedastisitas akan ditunjukkan oleh tingginya rIex
masing-masing variabel independensi, dimana korelasi dilakukan antara variabel
bebas dengan data residual. Hasil uji korelasi dengan Rank Spearman dapat
dilihat pada tabel 4.21. Adapun hipotesa yang digunakan adalah sebagai berikut
:
H0 : Tidak terjadi kasus
heteroskedastisitas
H1 : Terjadi kasus heteroskedastisitas
H0 ditolak jika nilai P-value >
0,05.
Tabel 4.21
Uji Heteroskedastisitas
dengan Korelasi Rank Spearman

Sumber : Data Hasil Penelitian Diolah Penulis
(Lampiran 3)
Tabel 4.21 menunjukkan bahwa
besarnya nilai korelasi antara variabel bebas dan data residual sangat kecil
dan mendekati nol. Selain itu nilai P-value
yang diperoleh lebih besar dari 0,05. Berdasarkan nilai korelasi dan P-value maka dapat disimpulkan bahwa
tidak terjadi kasus heteroskedastisitas. Dengan kata lain varians residual dari
suatu pengamatan ke pengamatan lainnya pada model regresi adalah sama (homoskedasticity).
d.
Uji Autokorelasi
Penggunaan uji autokorelasi
dimaksudkan untuk mengetahui apakah terjadi korelasi antara anggota serangkaian
data observasi yang diurutkan menurut waktu (time series) atau ruang (cross
sectional). Jika suatu model regresi terjadi kasus autokorelasi, maka akan
menyebabkan uji F dan uji t menjadi tidak akurat. Untuk mendeteksi ada atau
tidaknya korelasi ini dapat dilakukan dengan menggunakan uji Durbin Watson
(DW). Pada penelitian ini diperoleh nilai DW sebesar 2,430
Pendeteksian autokorelasi
dapat dilakukan dengan menggunakan metode statistik dari Durbin-Watson (Uji DW)
dengan ketentuan sebagai berikut (Algifari, 1997:79):
Pertama : Nilai DW < 1,10 : ada autokorelasi
Kedua : Nilai DW antara 1,10 dan 1,54 : tanpa kesimpulan
Ketiga : Nilai DW antara
1,55 dan 2,50 : tidak ada autokorelasi
Keempat : Nilai DW antara 2,51 dan 2,90 : tanpa kesimpulan
Kelima : nilai DW > 2,91 : ada autokorelasi
Berdasarkan ketentuan di atas,
maka nilai DW yang diperoleh masuk dalam ketentuan ketiga, sehingga disimpulkan
tidak terjadi kasus autokorelasi pada data residual.
4.
Analisis Regresi Linear
Berganda
Analisis regresi linear
berganda pada penelitian ini digunakan untuk mengetahui pengaruh dari Metode
Belajar Kelompok (X1) dan pembelajaran Kontekstual (X2)
terhadap hasil belajar (Y) pada siswa di Madrasah Ibtidaiyah Daruttaqwa Suci
Manyar Gresik. Model yang dihasilkan dari regresi linear berganda adalah
sebagai berikut:
Y = a + b1X1
+ b2X2 + e
Untuk mengetahui besarnya
konstanta dan masing-masing koefisien variabel bebas pada hasil analisis
regresi linear berganda digunakan tabel Coefficients yang dapat diringkas dalam
bentuk tabel 4.22.
Tabel 4.22
Koefisien Regresi

Sumber : Data Hasil Penelitian Diolah Penulis
Berdasarkan tabel 4.22. maka
dapat disusun suatu model regresi yang menjelaskan hubungan antara variabel
Metode Belajar Kelompok (X1), pembelajaran Kontekstual (X2)
dan hasil belajar (Y). Model regresi tersebut adalah sebagai berikut :
Y = a + b1X1
+ b2X2 + e
Y = 6,153+ 1,497X1 - 1,115X2 + e
Model tersebut menjelaskan
bahwa jika variabel Metode Belajar Kelompok (X1) dan pembelajaran
Kontekstual (X2) bernilai nol, maka besarnya variabel hasil belajar
(Y) yang ada adalah sebesar 6,153.
Jika variabel Metode Belajar Kelompok (X1) meningkat sebesar satu
satuan, maka besarnya variabel hasil belajar (Y) akan meningkat sebesar 1,497, dengan asumsi besarnya variabel
pembelajaran Kontekstual (X2) tetap atau konstan.
Sedangkan jika variabel
pembelajaran Kontekstual yang meningkat sebesar satu satuan, maka variabel
hasil belajar (Y) akan meningkat sebesar -1,115
dengan asumsi besarnya variabel Metode Belajar Kelompok (X1)
tetap atau konstan.
5.
Uji F
Berdasarkan model regresi yang
diperoleh dapat diketahui bahwa adanya dugaan pada hasil uji korelasi
sebelumnya terbukti. Namun kesignifikansian dari pengaruh masing-masing
variabel bebas, baik secara simultan maupun parsial, dapat dibuktikan lebih
lanjut pada uji F untuk uji simultan dan uji t untuk uji parsial.
H0 : βi = 0 : Variabel Metode Belajar Kelompok dan pembelajaran Kontekstual secara
simultan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel hasil belajar.
H1 : βi ≠ 0 : Variabel Metode Belajar Kelompok dan pembelajaran Kontekstual secara
simultan berpengaruh terhadap variabel hasil belajar.
H0 akan ditolak
jika nilai Fhitung > Ftabel. Untuk menentukan nilai Ftabel
maka harus diketahui nilai toleransi kesalahan (a) dan derajat bebas (df) yang digunakan.
Pada penelitian ini digunakan toleransi kesalahan (a) sebesar 5% dengan derajat bebas regresi
(df1) sebesar k = jumlah variabel = 2, dan derajat bebas residual
(df2) sebesar n – k – 1 = 35 – 2 – 1 = 32, sehingga diperoleh nilai
Ftabel sebesar 3,29. Hasil perhitungan uji F dapat dilihat pada
tabel 4.23.
Tabel 4.23
Uji-F

Sumber : Data Hasil Penelitian Diolah Penulis
(Lampiran 3)
Tabel
4.23. menunjukkan bahwa berdasarkan perhitungan yang ada diperoleh nilai F
sebesar 7,930. Selain itu nilai P-value
yang diperoleh kurang dari 0,05. Berdasarkan kedua nilai tersebut maka
disimpulkan bahwa variabel Metode Belajar Kelompok (X1) dan
pembelajaran Kontekstual (X2)
secara simultan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel hasil belajar (Y), karena nilai
Fhitung (7,930) > Ftabel
(3,29) dan nilai P-value (0,01) < a (0,05).
6.
Uji t
Uji t digunakan untuk mengetahui pengaruh dari Metode Belajar Kelompok (X1) dan
pembelajaran Kontekstual (X2)
terhadap variabel hasil
belajar (Y) pada siswa di
Madrasah Ibtidaiyah Daruttaqwa Suci Manyar Gresik. Adapun hipotesa
yang digunakan untuk menguji pengaruh variable Metode Belajar Kelompok (X1) dan
pembelajaran Kontekstual (X2)
secara parsial terhadap hasil
belajar (Y) pada siswa di
Madrasah Ibtidaiyah Daruttaqwa Suci Manyar Gresik adalah sebagai
berikut:
Variabel Metode Belajar Kelompok
H0 : b1 = 0 : Variabel Metode Belajar Kelompok secara parsial tidak berpengaruh signifikan
terhadap hasil belajar (Y).
H1 : b1 ¹ 0 : Variabel Metode Belajar Kelompok secara parsial
berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar (Y).
Variabel pembelajaran Kontekstual (X2)
H0 : b2 = 0 : Variabel pembelajaran Kontekstual (X2) secara parsial tidak berpengaruh
signifikan hasil belajar (Y).
H1 : b2 ¹ 0 : Variabel pembelajaran Kontekstual (X2)
secara parsial berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar (Y).
Dalam uji t digunakan level of
significant sebesar (α) 5% atau α = 0,05 dengan derajat bebas (df) sebesar
n – k – 1 = 35 – 2 – 1 = 32, dan uji t yang dilakukan uji dua arah, sehingga
diperoleh nilai ttabel sebesar 1,6939. Untuk menilai apakah Ho
yang diterima ditolak, ditentukan kriteria sebagai berikut :
a.
Hipotesa Ho
diterima dan H1 ditolak, apabila t hitung < t tabel
atau -thitung > -ttabel
b.
Hipotesa Ho
ditolak dan H1 diterima, apabila t hitung > t tabel
atau -thitung < -ttabel
Hasil uji t terhadap dua variabel Metode Belajar
Kelompok (X1) dan pembelajaran Kontekstual (X2) dapat dilihat pada
tabel 4.24.
Tabel 4.24
Uji t
Variabel
|
thitung
|
ttabel
|
Keputusan
|
Kesimpulan
|
Metode Belajar Kelompok (X1)
|
3,397
|
1,6939
|
H0 ditolak
|
Signifikant
|
Pembelajaran Kontekstual (X2)
|
2,286
|
1,6939
|
H0 ditolak
|
Signifikant
|
Sumber : Data Hasil Penelitian Diolah Penulis
(Lampiran 3)
Tabel.di atas menunjukkan
bahwa pada hasil analisis regresi linear berganda diperoleh nilai thitung
untuk variabel Metode Belajar Kelompok (X1) sebesar 3,397 dan untuk variabel
pembelajaran Kontekstual (X2) sebesar 2,286 nilai ttabel sebesar 1,6939,
sehingga diputuskan untuk menerima H1 dan menyimpulkan bahwa
variabel Metode Belajar Kelompok secara parsial berpengaruh terhadap hasil
belajar dan untuk variabel pembelajaran Kontekstual (X2) secara
parsial berpengaruh terhadap hasil belajar (Y).
Untuk mengetahui variabel
bebas yang berpengaruh dominan terhadap hasil belajar (Y) digunakan thitung
terbesar. Pada tabel di atas, nilai thitung terbesar dimiliki oleh
variabel pembelajaran Kontekstual, sehingga diputuskan bahwa variabel yang
berpengaruh dominan terhadap variabel hasil belajar (Y) adalah variabel
pembelajaran Kontekstual.
E.
Pembahasan Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil analisis dan
pengujian hipotesis yang dilakukan diketahui bahwa ditemukan beberapa hal yang
berkaitan dengan permasalahan yang diteliti dalam tesis ini yaitu Metode
Belajar Kelompok, pembelajaran Kontekstual dan hasil belajar.
Metode Belajar kelompok adalah
pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang saling
asah, silih asih, dan silih asuh antara sesama siswa sebagai latihan hidup
dalam masyarakat nyata. Metode Belajar kelompok merupakan pendekatan
pembelajaran melalui kelompok kecil siswa untuk bekerjasama dalam memaksimalkan
kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar.
Dari hasil pengamatan di
Madrasah Ibtidaiyah Daruttaqwa Suci Manyar Gresik yang bertujuan untuk
mengetahui apakah kedua metode tersebut berpengaruh terhadap hasil belajar
siswa pada khususnya untuk mata pelajaran akidah akhlak maka diketahui dengan
analisa statistik yang menunjukkan bahwa Metode Belajar Kelompok dan
pembelajaran kontekstual berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar siswa.
Hal ini berdasarkan perhitungan yang ada diperoleh nilai F sebesar 7,930.
Selain itu nilai P-value yang
diperoleh kurang dari 0,05. Berdasarkan kedua nilai tersebut maka disimpulkan
bahwa variabel Metode Belajar Kelompok (X1) dan pembelajaran Kontekstual (X2)
secara simultan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel hasil belajar (Y), karena nilai
Fhitung (7,930) > Ftabel
(3,29) dan nilai P-value (0,01) < a (0,05).
Dari hasil analisis uji-t
diketahui bahwa Metode Belajar Kelompok dan pembelajaran Kontekstual dapat
membawa pengaruh yang positif dan signifikan terhadap hasil belajar karena hasil
perhitungan t-hitung adalah lebih besar dari t-tabel.
Jadi kesimpulannya adalah
terdapat pengaruh Metode Belajar Kelompok dan pembelajaran Kontekstual terhadap
hasil belajar di Madrasah Ibtidaiyah Daruttaqwa Suci Manyar Gresik dan
pengaruhnya signifikan, artinya pelaksanaan kedua metode pembelajaran tersebut
dapat memberikan dampak yang cukup positif terhadap hasil belajar.











0 Komentar