LANDASAN TEORI
Perlu diketahui bahwa tidak
ada satu metode pun yang dianggap paling baik diantara metode-metode yang lain.
Tiap metode mempunyai karakteristik tertentu dengan segala kelebihan dan
kelemahan masing masing. Suatu metode mungkin baik untuk suatu tujuan tertentu,
pokok bahasan maupun situasi dan kondisi tertentu, tetapi mungkin tidak tepat
untuk situasi yang lain. Demikian pula suatu metode yang dianggap baik untuk
suatu pokok bahasan yang disampaikan oleh guru tertentu, kadang-kadang belum
tentu berhasil dibawakan oleh guru lain.
Adakalanya seorang guru perlu menggunakan
beberapa metode dalam menyampaikan suatu pokok babasan tertentu. Dengan variasi
beberapa metode, penyajian pengajaran menjadi lebih hidup. Misalnya pada awal
pengajaran, guru memberikan suatu uraian dengan metode ceramah, kemudian
menggunakan contoh-contoh melalui peragaan dan diakhiri dengan diskusi atau
tanya-jawab. Di sini bukan hanya guru yang aktif berbicara, melainkan siswa pun
terdorong untuk berpartisipasi.
A. Metode Belajar Kelompok
|
Sedangkan
Bruner mendeskripsikan belajar secara bersama merupakan kebutuhan manusia yang
mendasar untuk merespon yang lain dalam mencapai suatu tujuan. Suatu reciprocity yang merupakan sumber
motivasi yang setiap pengajar dapat menjalankan stimulasi untuk belajar (Siberman, L Melvin. 2004 : 8).
Islam telah
mengajarkan kepada umatnya agar bertolong-menolong dalam kelompok seperti
tertuang dalam Al-Qur’an Surat Al – Ma’idah
ayat 2:
$pkr'¯»t
tûïÏ%©!$#
(#qãZtB#uä
w
(#q=ÏtéB
uȵ¯»yèx©
«!$#
wur
tök¤¶9$#
tP#tptø:$#
wur
yôolù;$#
wur
yÍ´¯»n=s)ø9$#
Iwur
tûüÏiB!#uä
|Møt7ø9$#
tP#tptø:$#
tbqäótGö6t
WxôÒsù
`ÏiB
öNÍkÍh5§
$ZRºuqôÊÍur
4 #sÎ)ur
÷Läêù=n=ym
(#rß$sÜô¹$$sù
4 wur
öNä3¨ZtBÌøgs
ãb$t«oYx©
BQöqs%
br&
öNà2r|¹
Ç`tã
ÏÉfó¡yJø9$#
ÏQ#tptø:$#
br&
(#rßtG÷ès?
¢ (#qçRur$yès?ur
n?tã
ÎhÉ9ø9$#
3uqø)G9$#ur
( wur
(#qçRur$yès?
n?tã
ÉOøOM}$#
Èbºurôãèø9$#ur
4 (#qà)¨?$#ur
©!$#
( ¨bÎ)
©!$#
ßÏx©
É>$s)Ïèø9$#
ÇËÈ
Artinya : Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah dan jangan melanggar kehormatan
bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan
binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang
mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannya
dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, Maka bolehlah berburu. dan
janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka
menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada
mereka). dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa,
dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah
kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya. (Departemen Agama RI, 1989)
Oleh karena
itu dalam pembelajaran, hendaknya belajar dengan bekerjasama juga harus
dilaksanakan.
Pembelajaran
kooperatif dilaksanakan secara kumpulan kecil supaya pelajar-pelajar dapat
berkerjasama dalam kumpulan untuk mempelajari isi kandungan pelajaran dengan
pelbagai kemahiran sosial. Secara dasarnya, Metode Belajar kelompok melibatkan
pelajar bekerja sama dalam mencapai satu-satu objektif pembelajaran (Lie. Anita
.2005 : 29).
Ada
persepsi umum yang sudah berakar dalam dunia pendidikan dan juga sudah menjadi
harapan masyarakat yang menyatakan bahwa sudah merupakan tugas guru untuk
mengajar dan menyodori siswa dengan muatan-muatan informasi dan pengetahuan.
Dengan demikian, perlu adanya perubahan paradigma dalam menelaah proses belajar
siswa dan interaksi antara siswa dan guru. Pertama,
kegiatan belajar mengajar lebih mempertimbangkan siswa. Kedua, alur proses belajar mengajar tidak harus berasal dari guru
menuju siswa. Siswa bisa juga saling mengajar dengan sesama siswa yang lainnya.
Sistem pangajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerjasama
dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur disebut sebagai sistem ”pembelajaran gotong royong” atau Belajar
kelompok. Dalam sistem ini, guru bertindak sebagai fasilitator (Lie. Anita
.2005 : 12).
Metode Belajar
kelompok adalah pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan
interaksi yang saling asah, silih asih, dan silih asuh antara sesama siswa
sebagai latihan hidup dalam masyarakat nyata. Metode Belajar kelompok merupakan
pendekatan pembelajaran melalui kelompok kecil siswa untuk bekerjasama dalam
memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar (Lie, 2005:28).
Menurut
Slavin metode belajar kelompok adalah pembelajaran yang dilakukan secara
berkelompok, siswa dalam satu kelas dijadikan kelompok -kelompok kecil yang
terdiri dari 4 sampai 5 orang untuk memahami konsep yang difasilitasi oleh
guru. Model metode belajar kelompok adalah model pembelajaran dengan setting
kelompok-kelompok kecil dengan memperhatikan keberagaman anggota kelompok
sebagai wadah siswa bekerjasama dan memecahkan suatu masalah melalui interaksi
sosial dengan teman sebayanya, memberikan kesempatan pada peserta didik untuk
mempelajari sesuatu dengan baik pada waktu yang bersamaan dan ia menjadi
narasumber bagi teman yang lain. Jadi Metode belajar kelompok merupakan model
pembelajaran yang mengutamakan kerjasama diantara siswa untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Model metode belajar kelompok memiliki ciri-ciri: 1) untuk
menuntaskan materi belajarnya, siswa belajar dalam kelompok secara
kooperatif, 2) kelompok dibentuk dari siswa-siswa yang memiliki kemampuan
tinggi, sedang dan rendah, 3) jika dalam kelas terdapat siswa-siswa yang
terdiri dari beberapa ras, suku, budaya jenis kelamin yang berbeda, maka
diupayakan agar dalam tiap kelompok terdiri dari ras, suku, budaya, jenis
kelamin yang berbeda pula, dan 4) penghargaan lebih diutamakan pada kerja
kelompok dari pada perorangan.
Dalam metode
belajar kelompok, dua atau lebih individu saling tergantung satu sama lain
untuk mencapai suatu tujuan bersama. Menurut Ibrahim dkk. siswa yakin
bahwa tujuan mereka akan tercapai jika dan hanya jika siswa lainnya juga
mencapai tujuan tersebut. Untuk itu setiap anggota berkelompok bertanggung
jawab atas keberhasilan kelompoknya. Siswa yang bekerja dalam situasi metode
belajar kelompok didorong untuk bekerjasama pada suatu tugas bersama dan mereka
harus mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugasnya.
Model metode
belajar kelompok dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan
pembelajaran penting. Menurut Depdiknas tujuan pertama metode belajar kelompok,
yaitu meningkatkan hasil akademik, dengan meningkatkan kinerja siswa dalam
tugas-tugas akademiknya. Siswa yang lebih mampu akan menjadi nara sumber bagi
siswa yang kurang mampu, yang memiliki orientasi dan bahasa yang sama.
Sedangkan tujuan yang kedua, metode belajar kelompok memberi peluang agar siswa
dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai perbedaan latar belajar.
Perbedaan tersebut antara lain perbedaan suku, agama, kemampuan akademik, dan
tingkat sosial. Tujuan penting ketiga dari metode belajar kelompok ialah
untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. Keterampilan sosial yang
dimaksud antara lain, berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang
lain, memancing teman untuk bertanya, mau menjelaskan ide atau pendapat,
bekerja dalam kelompok dan sebagainya.
Menurut
Ibrahim, dkk. metode belajar kelompok memiliki dampak yang positif untuk siswa
yang hasil belajarnya rendah sehingga mampu memberikan peningkatan hasil belajar
yang signifikan. Cooper mengungkapkan keuntungan dari metode metode belajar
kelompok, antara lain: 1) siswa mempunyai tanggung jawab dan terlibat secara
aktif dalam pembelajaran, 2) siswa dapat mengembangkan keterampilan berpikir
tingkat tinggi, 3) meningkatkan ingatan siswa, dan 4) meningkatkan kepuasan
siswa terhadap materi pembelajaran.
Menurut
Ibrahim, unsur-unsur dasar metode belajar kelompok sebagai berikut: 1) siswa
dalam kelompok haruslah beranggapan bahwa mereka sehidup sepenanggungan
bersama, 2) siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu didalam kelompoknya, 3)
siswa haruslah melihat bahwa semua anggota didalam kelompoknya memiliki tujuan
yang sama, 4) siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama di
antara anggota kelompoknya, 5) siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan
penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok, 6) siswa
berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama
selama proses belajarnya, dan 7) siswa akan diminta mempertanggungjawabkan
secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
Sedangkan
Bruner dalam Siberman (2000 : 8) mendeskripsikan belajar secara bersama
merupakan kebutuhan manusia yang mendasar untuk merespon yang lain dalam
mencapai suatu tujuan. Suatu reciprocity
yang merupakan sumber motivasi yang setiap pengajar dapat menjalankan stimulasi
untuk belajar.
Metode
belajar kelompok adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan paham
konstruktivis. Isjoni (2009:14) mengemukakan bahwa “metode belajar kelompok
adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan paham konstruktivis”. Metode
belajar kelompok merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai
anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan
tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan
saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Pada metode belajar kelompok,
belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum
menguasai bahan pelajaran.
Pada
dasarnya, proses pembelajaran yang terjadi melibatkan siswa dari latar belakang
yang berbeda-beda, mulai dari warna kulit, agama bahkan dari tingkat kemampuan
berpikir dan gaya belajar mereka. Untuk itu seorang guru harus pandai melihat
perbedaan-perbedaan karakterisitik di setiap melakukan proses belajar mengajar.
Johson, dkk (Miftahul Huda 2011:13) mengemukakan bahwa “Pengalaman metode
belajar kelompok ternyata lebih diminati oleh siswa-siswa yang heterogen,
siswa-siswa yang berasal dari kelompok etnik yang berbeda, baik yang cacat
maupun noncacat”. Sedangkan Iskandar (2009:126) mengemukakan bahwa
“pembelajaran yang secara sadar dan sengaja mengembangkan interaksi yang saling
asuh antar siswa untuk menghindari ketersinggungan dan kesalahpahaman yang
dapat menimbulkan permusuhan”.
Model
metode belajar kelompok sangat membantu tugas dari seorang guru dalam
menyampaikan materi yang akan dibawakan karena metode belajar kelompok
mengharuskan melakukan interaksi antar teman sejawatnya untuk melakukan atau
menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Secara historis metode belajar
kelompok bermula dari paham konstruktivisme dimana siswa saling membantu dari
awal untuk menemukan hingga memahami setiap materi-materi yang diberikan oleh
guru.
Slavin (Iskandar
2009:126) mengemukakan bahwa : Pembelajaran konstruktivis dalam pengajaran
menerapkan model metode belajar kelompok secara ekstensif atas dasar teori
bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep–konsep yang sulit
apabila mereka saling mendiskusikan konsep - konsep tersebut.
Metode
belajar kelompok dapat menguntungkan bagi siswa yang tingkat kemampuan rendah
ataupun berprestasi rendah begitupun yang tingkat kemampuan tinggi atau
berprestasi tinggi yang mengerjakan tugas akedemik bersama-sama. Mereka atau
siswa yang berprestasi tinggi mengajari teman-temannya yang berprestasi yang
lebih rendah, sehingga memberikan bantuan khusus dari sesama teman yang
memiliki minat dan bahasa berorientasi kaum muda yang sama. Dalam prosesnya,
mereka yang berprestasi lebih tinggi juga memperoleh hasil secara akademik
karena bertindak sebagai tutor menuntut untuk berpikir lebih mendalam tentang
hubungan di antara berbagai ide dalam subjek tertentu.
Metode Belajar
kelompok telah menjadi salah satu pembaharuan dalam pergerakan refomasi
pendidikan. Metode Belajar kelompok sebenarnya merangkumi banyak jenis bentuk
pengajaran dan pembelajaran. Asasnya ia menggalakkan pelajar belajar
bersama-sama dengan berkesan melalui pembentukan kumpulan yang homogen seperti
dalam pendidikan inklutif. hanya boleh digunakan oleh pelbagai kumpulan umur
dan dalam pelbagai mata pelajaran. Metode belajar kelompok dilaksanakan secara
kumpulan kecil supaya pelajar-pelajar dapat berkerjasama dalam kumpulan untuk
mempelajari isi kandungan pelajaran dengan pelbagai kemahiran sosial. Secara
dasarnya, Metode Belajar kelompok melibatkan pelajar bekerja sama dalam
mencapai satu-satu objektif pembelajaran (Lie, 2005:29).
Pada abad
ke 21 ini, perlu ditelaah kembali praktek-praktek pembelajaran di sekolah.
Peranan yang harus dimainkan oleh dunia pendidikan dalam mempersiapkan anak
didik untuk berpartisipasi secara utuh dalam kehidupan bermasyarakat akan
sangat berbeda dengan peranan tradisional yang selama ini dipegang erat oleh
sekolah-sekolah.
Ada
persepsi umum yang sudah berakar dalam dunia pendidikan dan juga sudah menjadi
harapan masyarakat yang menyatakan bahwa sudah merupakan tugas guru untuk
mengajar dan menyodori siswa dengan muatan-muatan informasi dan pengetahuan.
Guru perlu bersikap atau setidaknya dipandang oleh siswa sebagai yang mahatahu
dan sumber informasi. Lebih celaka lagi, siswa belajar dalam situasi yang
membebani dan menakutkan karena dibayangi oleh tuntutan-tuntutan mengejar
nilai-nilai tes dan ujian yang tinggi.
Dengan demikian,
perlu adanya perubahan paradigma dalam menelaah proses belajar siswa dan
interaksi antara siswa dan guru. Pertama,
kegiatan belajar mengajar lebih mempertimbangkan siswa. Kedua, alur proses belajar mengajar tidak harus berasal dari guru
menuju siswa. Siswa bisa juga saling mengajar dengan sesama siswa yang lainnya.
Sistem pangajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerjasama
dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur disebut sebagai sistem ”pembelajaran gotong royong” atau Belajar
kelompok. Dalam sistem ini, guru bertindak sebagai fasilitator (Lie, 2005:12).
Ada
beberapa faktor yang sangat berperan dalam menentukan efektifitas suatu metode
mengajar, diantaranya adalah faktor guru, faktor siswa, dan faktor situasi atau
lingkungan tempat berlangsungnya belajar. Metode kerja kelompok adalah suatu
format belajar mengajar yang menitikberatkan pada terjadinya interaksi antara
anggota yang satu dengan anggota yang lain untuk menyelesaikan tugas-tugas
belajar secara bersama-sama.
Penerapan
kerja kelompok menurut Muedjiono (1992) bertujuan : (1) memupuk kemauan dan
kemampuan kerja sama diantara peserta didik, (b) meningkatkan keterlibatan
sosio-emosional dan intelektual para peserta didik dalam proses belajar
mengajar yang disediakannya dan (c) meningkatkan perhatian terhadap proses dan
hasil dari proses belajar mengajar secara seimbang.
Bentuk-bentuk
kerja kelompok yang bisa dilaksanakan ialah : (a) kerja kelompok berjangka
pendek, (b) kerja kelompok berjangka panjang, (c) kerja kelompok campuran. Yang
sesuai dengan metode kerja kelompok yang akan diterapkan ialah metode kerja
kelompok campuran yang mana siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok yang
disesuaikan dengan kemampuan belajar siswa.
Secara
singkat metode kerja kelompok pada dasarnya memiliki kelebihan dan kelemahan.
Kelebihan metode kerja kelompok salah satunya adalah dapat memberikan
kesempatan kepada para siswa untuk menggunakan keterampilan bertanya dan
membahas suatu masalah. Bagi guru kelebihannya yaitu dapat memungkinkan untuk
lebih memperhatikan siswa sebagai individu serta kebutuhan belajar. Sedangkan
kelemahannya yaitu strategi ini kadang-kadang menuntut pengaturan tempat duduk
yang berbeda-beda dengan gaya yang berbeda-beda pula.
B.
Pembelajaran Kontekstual
Dalam kegiatan belajar mengajar
tidak semua anak didik mampu berkonsentrasi dalam waktu yang relatif lama. Daya
serap anak didik terhadap bahan yang diberikan juga bermacam-macam, ada yang cepat,
ada yang sedang, dan ada yang lambat. Faktor intelegensi mempengaruhi daya serap anak didik terhadap bahan pelajaran
yang diberikan oleh guru. Cepat lambatnya penerimaan anak didik terhadap bahan pelajaran
yang diberikan menghendaki pemberian waktu yang bervariasi, sehingga penguasaan
penuh dapat tercapai.
Karena itu dalam kegiatan belajar
mengajar guru harus memiliki strategi agar anak didik dapat belajar secara efektif
dan efisien, mengena pada tujuan yang diharapkan. Salah satu langkah untuk memiliki
strategi itu adalah harus menguasai teknik-teknik penyajian atau biasanya disebut
metode mengajar. Dengan demikian, metode mengajar adalah stategi pengajaran sebagai
alat untuk mencapai tujuan yang diharapkan (Roestiyah. 2001 :1).
Dalam ajaran Islam,
pembelajaran kontekstual sudah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
Wassalam dalam sabdanya :

Artinya : Telah menceritakan kepadaku Ishaq
telah menceritakan kepada kami An Nadir telah mengabarkan kepada kami Syu’bah
dan Said bin Abu Burdah dan Ayahnya dan Kakeknya dia berkata; “Ketika beliau
mengutusnya bersama Mu’adz bin Jabal, beliau bersabda kepada keduanya:
“Mudahkanlah setiap urusan dan janganlah kamu mempersulit, berilah kabar
gembira dan jangan kamu membuatnya lari, dan bersatu padulah”(H.R. Bukhori :
5659). (Syaikh Abdul Aziz
bin Abdulloh bin Baaz. 2005).
Serta dalam Al-Qur’an Surat Ali imron ayat 159 :
$yJÎ6sù
7pyJômu
z`ÏiB
«!$#
|MZÏ9
öNßgs9
( öqs9ur
|MYä.
$àsù
xáÎ=xî
É=ù=s)ø9$#
(#qÒxÿR]w
ô`ÏB
y7Ï9öqym
( ß#ôã$$sù
öNåk÷]tã
öÏÿøótGó$#ur
öNçlm;
öNèdöÍr$x©ur
Îû
ÍöDF{$#
( #sÎ*sù
|MøBztã
ö@©.uqtGsù
n?tã
«!$#
4 ¨bÎ)
©!$#
=Ïtä
tû,Î#Ïj.uqtGßJø9$#
ÇÊÎÒÈ
Artinya : Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah
kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi
berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu
ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan
mereka dalam urusan itu[246]. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad,
Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
bertawakkal kepada-Nya. (Syaikh
Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baaz. 2005).
Dalam kegiatan belajar mengajar
tidak semua anak didik mampu berkonsentrasi dalam waktu yang relatif lama. Daya
serap anak didik terhadap bahan yang diberikan juga bermacam-macam, ada yang cepat,
ada yang sedang, dan ada yang lambat. Faktor intelegensi mempengaruhi daya serap anak didik terhadap bahan pelajaran
yang diberikan oleh guru. Cepat lambatnya penerimaan anak didik terhadap bahan pelajaran
yang diberikan menghendaki pemberian waktu yang bervariasi, sehingga penguasaan
penuh dapat tercapai.
Terhadap perbedaan daya serap anak
didik sebagaimana tersebut di atas, memerlukan strategi pengajaran yang tepat. Metodelah
salah satu jawabannya. Untuk sekelompok anak didik boleh jadi mereka mudah menyerap
bahan pelajaran bila guru menggunakan metode tanya jawab, tetapi untuk sekelompok
anak didik yang lain mereka lebih mudah menyerap bahan pelajaran bila guru menggunakan
metode demonstrasi atau eksperimen.
Karena itu dalam kegiatan belajar
mengajar, menurut Roestiyah, N.K. (1989: 1), guru harus memiliki strategi agar anak
didik dapat belajar secara efektif dan efisien, mengena pada tujuan yang diharapkan.
Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu adalah harus menguasai teknik-teknik
penyajian atau biasanya disebut metode mengajar. Dengan demikian, metode mengajar
adalah stategi pengajaran sebagai alat untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Ada kecenderungan dalam dunia pendidikan
dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika
lingkungan diciptakan secara alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak “mengalami”
sendiri apa yang dipelajarinya, bukan ‘mengetahui’-nya. Pembelajaran yang berorientasi
target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi ‘mengingat’ jangka pendek,
tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangkan panjang.
Itulah yang terjadi di kelas-kelas sekolah kita! Pendekatan kontekkstual (contextual
teaching learning/CTL) adalah suatu pendekatan pengajaran yang dari karakteristiknya
memenuhi harapan itu.
Dalam kegiatan pembelajaran
perlu adanya upaya membuat belajar lebih mudah, sederhana, bermakna dan
menyenangkan agar siswa mudah menerima ide, gagasan, mudah memahami
permasalahan dan pengetahuan serta dapat mengkonstruksi sendiri pengetahuan
barunya secara aktif, kreatif dan produktif. Untuk mencapai usaha tersebut segala komponen
pembelajaran harus dipertimbangkan termasuk pendekatan kontekstual.
Salah satu strategi
pembelajaran yang dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan dengan
produktif dan bermakna bagi siswa adalah strategi pembelajaran kontekstual (Contextual
Teaching and Learning) yang selanjutnya disebut CTL. Strategi CTL fokus
pada siswa sebagai pembelajar yang aktif, dan memberikan rentang yang luas
tentang peluang-peluang belajar bagi mereka yang menggunakan
kemampuan-kemampuan akademik mereka untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan
nyata yang kompleks.
Kenyataan menunjukkan bahwa
sebagian besar siswa tidak mampu menghubungkan antara materi yang mereka pelajari
dengan pemanfaatannya dalam kehidupan nyata. Pemahaman konsep akademik yang
dimiliki siswa hanyalah merupakan sesuatu yang abstrak, belum menyentuh
kebutuhan praktis kehidupan siswa. Pembelajaran secara konvensional yang
diterima siswa hanyalah penonjolan tingkat hafalan dari sekian macam topik,
tetapi belum diikuti dengan pengertian dan pemahaman yang mendalam yang bisa
diterapkan ketika mereka berhadapan dengan situasi baru dalam kehidupannya.
Dalam kaitan dengan evaluasi,
pembelajaran dengan kontekstual lebih menekankan pada authentic assesmen yang
diperoleh dari berbagai kegiatan. Alwasih, Chaedar (2002:289) berpendapat bahwa
keuntungan penilaian autentik bagi siswa antara lain: (1) mengungkapkan secara total
seberapa baik pemahaman materi akademik mereka, (2) mengungkapkan dan memperkuat
penguasaan kompetensi mereka seperti mengumpulkan informasi, menggunakan sumber
daya, mengani teknologi, dan berfikir secara sistematis, (3) menhubungkan pembelajaran
dengan pengalaman mereka sendiri, dunia mereka, dan masyarakat luas, (4) mempertajam
keahlian berfikir dalam tingkatan yang lebih tinggi saat mereka menganalisis, memadukan,
mengidentifikasi masalah, menciptakan solusi, dan menghubungkan sebab akibat, (5)
menerima tanggung jawab dan membuat pilihan, (6) berhubungan dan bekerja sama dengan
orang lain dalam mengerjakan tugas, dan (7) belajar mengevaluasi tingkat prestasi
sendiri. Jenis penilaian autentik
yaitu portofolio, pengukuran kinerja, proyek, dan jawaban tertulis secara lengkap.
Depdiknas, 2002 menyampaikan bahwa
pendekatan kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan
antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa
membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan
mereka sehari-hari. Selain itu pembelajaran kontekstual merupakan suatu konsep tentang
pembelajaran yang membantu guru-guru untuk menghubungkan isi bahan ajar dengan situasi-situasi
dunia nyata serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai anggota keluarga,
warga negara, dan pekerja serta terlibat aktif dalam kegiatan belajar mengajar yang
dituntut dalam pelajaran. Pendekatan kontekstual ini merupakan konsep belajar yang
membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi nyata siswa
dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Tugas guru dalam kelas kontekstual adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi
daripada memberi informasi (http://www.sekolahdasar.net/06/pengertian-
pembelajaran-kontekstual).
1. Pengertian Pembelajaran Kontekstual
Kontekstual berasal dari kata dasar
konteks yang berarti berbagai bidang kehidupan atau hal-hal yang diperlukan agar
orang dapat melaksanakan sesuatu. Definisi Pendekatan Kontekstual (Contekstual Teaching And Learning/CTL) adalah
konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan
situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa mmbuat hubungan antara pengetahuan
yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga
dan masyarakat.
Dalam konteks itu, siswa perlu
mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana
mmencapainya. Merka sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti.
Dengan begitu mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal
untuk hidupnya nanti. Mereka mempelajari apa yang bermanfaat bagi dirinya dan berupaya
menggapaianya. Dalam upaya itu, mereka memerlukan guru sebagai pengarah dan pembimbing.
Terkait dengan CTL ini, para
ahli menyebutnya dengan istilah yang berbeda-beda, seperti: pendekatan
pembelajaran kontekstual, strategi pembelajaran kontekstual, dan model
pembelajaran kontekstual. Apapun istilah yang digunakan para ahli tersebut,
pada dasarnya kontekstual berasal dari bahasa Inggris “contextual” yang berarti sesuatu yang berhubungan dengan konteks. Oleh
sebab itu pembelajaran kontekstual merupakan konsep pembelajaran yang mana guru
menggunakan pengalaman siswa yang pernah dilihat atau dilakukan dalam
kehidupannya sebagai sumber belajar pendukung. Pembelajaran dapat mendorong
siswa membuat hubungan antara materi yang dipelajari, pengalaman yang dimiliki
dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan
masyarakat.
Landasan filosofis CTL adalah
konstruktivisme yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak
hanya sekadar menghafal, tetapi merekonstruksikan atau membangun pengetahuan
dan keterampilan baru lewat fakta-fakta atau proposisi yang mereka alami dalam
kehidupannya. Pendekatan ini selaras dengan konsep kurikulum berbasis
kompetensi yang diberlakukan saat ini dan secara operasional tertuang pada
KTSP. Kehadiran kurikulum berbasis kompetensi juga dilandasi oleh pemikiran
bahwa berbagai kompetensi akan terbangun secara mantap dan maksimal apabila
pembelajaran dilakukan secara kontekstual.
Menurut Nurhadi dalam
Sugiyanto (2007) CTL (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang mendorong guru
untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa.
Menurut Jonhson dalam Sugiyanto (2007) CTL adalah sebuah
proses pendidikan yang bertujuan untuk menolong para siswa melihat siswa
melihat makna didalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara
menghubungkan subyek-subyek akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian
mereka. Jadi pengertian CTL dari pendapat para tokoh-tokoh diatas dapat kita
simpulkan bahwa CTL adalah konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara
materi yang diajarkanya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa
membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam
kehidupan sehari-hari.
Tujuan pembelajaran kontekstual adalah sebagai berikut:
- Model pembelajaran CTL ini bertujuan untuk memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari sehingga siswa memiliki pengetahuan atu ketrampilan yang secara refleksi dapat diterapkan dari permasalahan kepermasalahan lainya.
- Model pembelajaran ini bertujuan agar dalam belajar itu tidak hanya sekedar menghafal tetapi perlu dengan adanya pemahaman
- Model pembelajaran ini menekankan pada pengembangan minat pengalaman siswa.
- Model pembelajaran CTL ini bertujuan untuk melatih siswa agar dapat berfikir kritis dan terampil dalam memproses pengetahuan agar dapat menemukan dan menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain
- Model pembelajaran CTL ini bertujun agar pembelajaran lebih produktif dan bermakna
- Model pembelajaran model CTL ini bertujuan untuk mengajak anak pada suatu aktivitas yang mengkaitkan materi akademik dengan konteks jehidupan sehari-hari
- Tujuan pembelajaran model CTL ini bertujuan agar siswa secara indinidu dapat menemukan dan mentrasfer informasi-informasi komplek dan siswa dapat menjadikan informasi itu miliknya sendiri.
Dalam kelas kontekstual, tugas
guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya, maksudnya, guru lebih banyakberusunan
dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelolah kelas sebagai
sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas
(siswa). Sesuatu yang baru datang dari”mene,ukan sendiri”, bukan dari “apa kata
guru”. Begitulah peran guru di kelas yang dikelolah dengan pendekatan kontekstual.
Kontekstual hanya sebuah strategi
pembelajaran, seperti halnya strategi pembelajaran yang lain, kontekstual dikembangkan
dengan tujuan agar pembelajaran berjalan konduktif dan bermakna. Pendekatan kontekstual
dapat dijalankan tanpa harus mengubah kurikulum, dalam bidang studi apa saja, dan
tidak diperluka biaya yang mahal. Secara garis besar penerapan pendekatan kontekstual,
langkahnya adalah sebagai berikut :
1. Kembangkan pemikiran bahwa
siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri,
dan mengkontruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya.
2. Laksanaka sejauh mungkin
kegiatan Inkuiry untuk semua topik.
3. Kembangkan sifat ingin
tahu siswa dengan bertanya
4. Ciptakan “masyarakat belajar”
(belajar dalam kelompok-kelompok)
5. Hadirkan “model” sebagai
contoh pembelajaran
6. Lakukan refleksi diakhir
pertemuan
7. Lakukan penilaian yang
sebenarnya dengan berbagai cara
8. Tujuh komponen pendekatan
kontekstual (CTL)
a) Konstruksi (Contructivism), kontruktivisme merupakan
landasan pendekatan kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit
demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong.
Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna
bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide.
b) Menemukan (Inquiry), penemuan merupakan bagian inti
dari kegiatan pembelajaran kontekstual, yaitu pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh
siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari
menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan
menemukan.
c) Bertanya (Questioning), pengetahuan yang dimiliki seseorang,
selalu bermula dari “bertanya”. Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran ini.
Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing,
dan menilai kemampuan berfikir siswa.
d) Masyarakat belajar (Learning Community), konsep masyarakat belajar
menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain.
Hasil belajar diperleh dari “Sharing” antara teman, antar kelompok, dan antara yang
tahu ke yang belum tahu. Di kelas ini, di sekitar sini, juga orang yang di luar
sana, semua adalah anggota masyarakat belajar.
e) Pemodelan (modeling), maksudnya dalam sebuah pembelajaran
ketrampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. Pemodelan pada
dasarnya membahas akan gagasan yang dipikirkan, mendemonstrasikan bagaimana guru
menginginkan pada siswanya untuk belajar, dan melakukan apa yang diinginkan guru
bagi siswa-siswanya. Pemodelan dapat berbentuk demonstrasi, pemberian contoh tentang
konsep atau aktifitas belajar.
f) Refleksi (Reflection), adalah cara berfikir tentang
apa yang baru dipelajari atau berfikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah dilaksanakan
di masa yang lalu. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktifitas, atau
pengetahuan yang baru diterima. Misalnya ketika pelajaran berakhir siswa merenungkan
apa yang baru diterimanya.
g) Penilaian yang sebenarnya
(Authentic Assessment), adalah prosedur
penilaian pada pembelajaran kontekstual dengan prinsip dan ciri-ciri penilaian autentik.
Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran
perkembangan belajar siswa. Hal ini untuk memastikan apakah siswa telah mengalami
proses pembelajaran yang benar atau tidak.
Secara
umum, langkah-langkah pembelajaran kontekstual adalah sebagai berikut:
Kegiatan Awal
- Guru menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran,
- Apersepsi, sebagai penggalian pengetahuan awal siswa terhadap materi yang akan diajarkan.
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan pokok-pokok materi yang akan dipelajari
- Penjelasan tentang pembagian kelompok dan cara belajar.
Kegiatan Inti
- Siswa bekerja dalam kelompok menyelesaikan permasalahan yang diajukan guru. Guru berkeliling untuk
- Siswa wakil kelompok mempresentasikan hasil penyelesaian dan alasan atas jawaban permasalahan yang diajukan guru.
- Siswa dalam kelompok menyelesaikan lembar kerja (LKS: soal cerita perkalian terlampir) yang diajukan guru. Guru berkeliling untuk mengamati, memotivasi, dan memfasilitasi kerja sama,
- Siswa wakil kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompok dan kelompok yang lain menanggapi hasil kerja kelompok yang mendapat tugas,
- Dengan mengacu pada jawaban siswa, melalui tanya jawab, guru dan siswa membahas cara penyelesaian masalah yang tepat,
- Guru mengadakan refleksi dengan menanyakan kepada siswa tentang hal-hal yang dirasakan siswa, materi yang belum dipahami dengan baik, kesan dan pesan selama mengikuti pembelajaran.
Kegiatan
Akhir
- Guru dan siswa membuat kesimpulan cara menyelesaikan soal cerita perkalian bilangan,
- Siswa mengerjakan lembar tugas (LTS: soal cerita perkalian terlampir),
- Siswa menukarkan lembar tugas satu dengan yang lain, kemudian, guru bersama siswa membahas penyelesaian lembar tugas dan sekaligus dapat memberi nilai pada lembar tugas sesuai kesepakatan yang telah diambil (ini dapat dilakukan apabila waktu masih tersedia
2. Keunggulan dan kelemahan Pembelajaran Kontekstual
Adapun beberapa keunggulan dari
pembelajaran Kontekstual adalah:
a. Pembelajaran menjadi lebih
bermakna dan riil. Artinya siswa dituntut untuk dapat menagkap hubungan antara pengalaman
belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan
dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi
siswa materi itu akan berfungsi secara fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya
akan tertanam erat dalam memori siswa, sihingga tidak akan mudah dilupakan.
b. Pembelajaran lebih produktif
dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena metode pembelajaran CTL
menganut aliran konstruktivisme, dimana seorang siswa dituntun untuk menemukan pengetahuannya
sendiri. Melalui landasan filosofis
konstruktivisme siswa diharapkan belajar melalui ”mengalami” bukan ”menghafal”.
c. Kontekstual adalah model
pembelajaran yang menekankan pada aktivitas siswa secara penuh, baik fisik maupun
mental
d. Kelas dalam pembelajaran
Kontekstual bukan sebagai tempat untuk memperoleh informasi, akan tetapi sebagai
tempat untuk menguji data hasil temuan mereka di lapangan
e. Materi pelajaran dapat
ditemukan sendiri oleh siswa, bukan hasil pemberian dari guru
f. Penerapan pembelajaran
Kontekstual dapat menciptakan suasana pembelajaran yang bermakna
Sedangkan kelemahan dari pembelajaran
Kontekstual adalah sebagai berikut:
a. Diperlukan waktu yang
cukup lama saat proses pembelajaran Kontekstual berlangsung
b. Jika guru tidak dapat
mengendalikan kelas maka dapat menciptakan situasi kelas yang kurang kondusif
c. Guru lebih intensif dalam
membimbing. Karena dalam metode CTL, guru tidak lagi berperan sebagai pusat informasi.
Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk
menemukan pengetahuan dan ketrampilan yang baru bagi siswa. Siswa dipandang sebagai
individu yang sedang berkembang. Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh
tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. Dengan demikian,
peran guru bukanlah sebagai instruktur atau ”penguasa” yang memaksa kehendak melainkan
guru adalah pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.
d. Guru memberikan kesempatan
kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide–ide dan mengajak siswa
agar dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan strategi–strategi mereka sendiri
untuk belajar. Namun dalam konteks ini tentunya guru memerlukan perhatian dan bimbingan
yang ekstra terhadap siswa agar tujuan pembelajaran sesuai dengan apa yang diterapkan
semula.
3. Perbandingan Pembelajaran Kontekstual
Dengan pembelajaran konvensional
Terlihat jelas perbedaan proses pembelajaran kontekstual
yang berpijak pada pandangan kontrukstivisme dengan pembelajaran tradisional yang
berpijak padangan behaviorismeobjektivis. Menurut Sanjaya (2006 : 256) ada beberapa
perbedaan yang dapat diuraikan sebagai berikut:
1.
Dalam pembelajaran kontekstual, siswa secara aktif
terlibat dalam proses pembelajaran, sedangkan dalam pembelajaran tradisional siswa
adalah penerima informasi yang pasif.
2.
Dalam pembelajaran kontekstual, siswa belajar dari
teman melalui kerja kelompok, diskusi, saling mengoreksi, sedangkan dalam pembelajaran
tradisional siswa belajar secara individual.
3.
Dalam pembelajaran kontekstual, pembelajaran dikaitkan
dengan kehidupan nyata dan atau masalah yang disimulasikan, sedangkan dalam pembelajaran
tradisional pembelajaran sangat abstrak.
4.
Dalam pembelajaran kontekstual, perilaku dibangun atas
kesadaran sendiri sedangkan dalam pembelajaran tradisional perilaku dibangun atas
kebiasaan.
5.
Dalam pembelajaran kontekstual, keterampilan dibangun
atas kesadaran diri, Sedangkan dalam pembelajaran tradisional ketrampilan dikembangkan
atas dasar latihan.
6.
Dalam pembelajaran kontekstual, hadiah untuk perilaku
baik adalah kepuasan diri, sedangkan dalam pembelajaran tradisional hadiah untuk
perilaku baik adalah pujian atau nilai (angka) rapor.
7.
Dalam pembelajaran kontekstual, seseorang tidak melakukan
yang jelek karena dia sadar hal itu keliru dan merugikan., sedangkan dalam pembelajaran
tradisional seseorang tidak melakukan yang jelek karena dia takut hukuman.
8.
Dalam pembelajaran kontekstual, bahasa diajarkan dengan
pendekatan komunikatif, yakni siswa diajak menggunakan bahasa dalam konteks nyata,
sedangkan dalam pembelajaran tradisional, bahasa diajarkan dengan pendekatan struktural:
rumus diterapkan sampai paham, kemudian dilatihkan (drill).
9.
Dalam pembelajaran kontekstual, pemahaman rumus dikembangkan
atas dasar skemata yang sudah ada dalam diri siswa, sedangkan dalam pembelajaran
tradisional rumus itu ada di luar diri siswa, yang harus dikembangkan, diterima
dan dilafalkan, dan dilatihkan.
10.
Dalam pembelajaran kontekstual, siswa menggunakan kemampuan
berpikir kritis, terlibat penuh dalam pengupayakan terjadinya proses pembelajaran
yang efektif, ikut bertanggungjawab atas terjadinya proses pembelajaran yang efektif,
dan membawa skemata masing-masing ke dalam proses pembelajaran sedangkan dalam pembelajaran
tradisional siswa secara pasif menrima rumus atau kaidah (membaca, mendengarkan,
mencatat, menghapal), tampa memberikan kontribusi ide dalam proses pembelajaran.
11.
Dalam pembelajaran kontekstual, pengetahuan yang dimiliki
oleh manusia dikembangkan oleh manusia itu sendiri. Manusia menciptakan atau membangun
pengetahuan dengan cara memberi arti dan memahami pengalamannya sedangkan dalam
pembelajaran tradisional pengetahuan adalah penangkapan terhadap serangkaian fakta,
konsep, atau hukum yang brada di luar diri manusia.
Pembelajaran konteks
mengasumsikan bahwa makna konteks sesuai dengan situasi nyata lingkungan seseorang
dan itu dapat terjadi melalui pencarian hubungan yang masuk akal dan bermanfaat.
Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) merupakan konsep
belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkanya dengan situasi
dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya
dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Berikut ini adalah
perbandingan pembelajaran Kontekstual dengan pembelajaran Konvensional.
Tabel 2.1
Perbandingan Pembelajaran
Kontekstual (CTL)
dengan Pembelajaran
Konvensional
Perbandingan
|
|||
No
|
Pembelajaran Kontekstual (CTL)
|
No
|
Pembelajaran Konvensional
|
1
|
Menempatkan siswa sebagai subjek
belajar
|
1
|
Siswa ditempatkan sebagai objek belajar
|
2
|
Siswa belajar melalui kegiatan
kelompok
|
2
|
Siswa lebih banyak belajar secara individual
|
3
|
Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata secara riil
|
3
|
Pembelajaran bersifat teoritis dan abstrak
|
4
|
Kemampuan didasarkan atas
pengalaman
|
4
|
Kemampuan diperoleh melalui
latihan-latihan
|
5
|
Tujuan akhir adalah kepuasan diri
|
5
|
Tujuan akhir adalah nilai atau angka.
|
6
|
Tindakan dibangun atas kesadaran diri sendiri
|
6
|
Tindakan individu didasarkan oleh faktor dari luar dirinya
|
7
|
Pengetahuan yang dimiliki setiap individu selalu berkembang sesuai dengan
pengalaman yang dialaminya
|
7
|
Kebenaran yang dimiliki bersifat absolut dan final
|
8
|
Siswa bertanggung jawab dalam memonitor dan mengembangkan pembelajaran mereka
masing-masing
|
8
|
Guru adalah penentu jalannya proses pembelajaran
|
9
|
pembelajaran bisa terjadi dimana saja dalam konteks dan setting yang berbeda
sesuai dengan kebutuhan
|
9
|
Pembelajaran konvensional pembelajaran hanya terjadi di dalam kelas
|
C. Mata Pelajaran Aqidah Akhlak
1.
Pengertian Aqidah Akhlak
Aqidah adalah bentuk jamak
dari kata aqaid. Aqaid merupakan beberapa perkara yang wajib diyakini
kebenarannya dalam hati, mendatangkan ketentraman jiwa, menjadi keyakinan yang tidak tercampur
sedikit pun keragu-raguan di dalamnya. Secara etimologi, aqidah berarti credo,
keyakinan hidup dan secara khusus aqidah dapat diartikan sebagai kepercayaan dalam hati,
diikrarkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan. Aqidah adalah ilmu yang mengajarkan manusia mengenai
kepercayaan yang pasti dan wajib dimiliki oleh setiap manusia. Kepercayaan akan
sebuah kebenaran yang dapat diterima secara mudah oleh manusia berdasarkan akal
dan fitrah. Kebenaran yang
disematkan dalam hati, dan berusaha
menolak segala sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran tersebut.
Aqidah Akhlak merupakan salah
satu pokok tujuan dalam ajaran Islam seperti yang tertuang dalam Hadits Nabi
SAW :
إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق
” Sesungguhnya
aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR. Ahmad
dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 45 oleh Syaikh Abdul
Aziz bin Abdulloh bin Baaz. 2005)
Etimologis akhlak adalah
bentuk jamak dari kata khulaq yang artinya budi pekerti, perangai, tingkah laku
atau tabiat. Selain itu, akhlak juga dapat diartikan sebagai perilaku yang
dimiliki oleh manusia, baik yang
bersifat terpuji (akhlakul karimah) maupun yang bersifat tidak terpuji
(akhlakul mazmumah). Nabi Muhammad SAW diutus sebagai nabi terakhir, penyempurna dari nabi-nabi sebelumnya, dengan
tujuan untuk memperbaiki akhlak manusia. Sebagaimana beliau pernah
bersabda, “Hanyalah aku diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan akhlak”.
Pentingnya akhlak sehingga
akhlak merupakan tolok ukur kesempurnaan iman seorang hamba. Hal ini dapat
dilihat dari sabda Rasulullah
SAW,

“Orang mukmin
yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaknya”.
Pengertian aqidah akhlak
sendiri sangatlah luas. Namun, dari pengertian sebelumnya maka dapat kita
simpulkan bahwa aqidah akhlak merupakan kepercayaan yang diyakini kebenarannya
di dalam hati, yang diikrarkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan yang
terpuji sesuai dengan ajaran Al Qur’an dan Hadits.
Aqidah dan akhlak merupakan
hal yang tidak dapat dipisahkan. Maka menjaga aqidah akhlak merupakan hal
penting bagi kita. Hal-hal yang dapat kita lakukan antara lain dengan
mempelajari ilmu-ilmu yang menyangkut aqidah akhlak, hal-hal yang dapat merusak
aqidah akhlak, menjauhkan perbuatan-perbuatan yang dapat merusak aqidah akhlak
dan mengamalkan ilmu yang telah kita pelajari.
Mengingat begitu pentingnya
aqidah akhlak ini, maka sebagian sekolah mulai
memasukkan aqidah akhlak ini ke dalam mata pelajaran di sekolah. Karena usia
anak-anak sekolah merupakan usia yang labil, di mana perlu ditanamkan sejak
dini agar mereka mempunyai aqidah yang baik dan akhlak yang terpuji.
Sama seperti ilmu lainnya,
kajian aqidah akhlak juga memiliki tendensi yang kuat untuk dapat diaplikasikan
dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan jika disuruh memilih, lebih baik tidak tahu
makna aqidah dan akhlak secara etimologis daripada tidak tahu cara beraqidah
dan berakhlak yang baik .
Dalam kehidupan sehari-hari,
tentu kita sering bertemu dengan orang yang secara fisik atau penampilan tidak
memperlihatkan aqidah dan akhlak yang baik. Atau bahkan kita sering pula
menemukan seseorang yang berpenampilan Islami secara kaffah sehingga asumsi
yang muncul dalam pikiran kita adalah positif.
Hal tersebut sebenarnya
bukanlah tolak ukur yang tepat untuk bisa mengetahui sejauh mana aqidah dan
akhlak seseorang itu dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut disebabkan oleh perumpamaan semakin
padi berisi, maka ia akan semakin merunduk. Jika seseorang memiliki keimanan yang kuat, maka
ia tidak akan memperlihatkan keimanan tersebut dengan cara memamerkannya.
Oleh karena itu, sebelum kita
melakukan sesuatu, maka kita juga harus memikirkan dampak yang muncul akibat
perbuatan kita tersebut. Kembali pada permasalahan utama yang tadi sudah kita
bahas, ada seseorang yang secara penampilan tidak mendukung dirinya untuk
dianggap sebagai seorang yang berakhlak baik.
Berbeda dengan orang yang
merasa dirinya telah beriman, ia bisa seenaknya menghakimi orang lain hanya karena
penampilan yang dimilikinya lebih islami dibandingkan dengan orang-orang
sekelilingnya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pemenuhan perilaku
aqidah dan akhlak yang baik tidak dapat dinilai oleh manusia secara fisik. Sama
halnya dengan sifat ikhlas yang sulit untuk dilihat. Namun, kedua hal tersebut
memiliki kesamaan. Keduanya sama-sama bisa dirasakan oleh orang lain. Dan orang
yang memiliki hati yang suci pulalah yang bisa merasakan ketulusan seseorang
yang berakhlak mulia.
Sebagai contoh, kita bisa
mengambil suri tauladan para nabi yang beraqidah dan berakhlak mulia. Para nabi
memiliki kemampuan, pengetahuan, serta perilaku yang sangat baik di hadapan
umat manusia dan di hadapan Allah. Akan tetapi, orang-orang kafir justru sering
menganggap kebaikan tersebut sebagai sesuatu yang bernilai negatif. Ada yang
menganggap perilaku para nabi sebagai topeng kebaikan yang menutupi kejahatan
hati mereka, ada pula yang memfitnah mereka dengan cara yang keji agar
orang-orang tidak mengikuti jejak aqidah akhlak yang baik dari para nabi
tersebut.
Orang-orang seperti ini tentu
saja akan kita temui juga dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, untuk
terhindar dari masalah yang tidak diinginkan ketika hendak melakukan akhlak
yang baik, terlebih dahulu kita harus memiliki aqidah yang baik pula.
Jika kita sudah memiliki
aqidah yang baik, maka hati kita pun akan terbebas dari segala ancaman dari
luar dan dari dalam diri kita. Kita tidak akan mudah terhasut untuk menjadi
sedih atau marah kendati pun orang lain menganggap apa yang kita lakukan
sebagai sesuatu yang negatif. Oleh sebab itu, sebagai muslim yang baik, kita
perlu mengkaji secara rutin bagaimana seyogyanya kita beraqidah akhlak dalam
kehidupan sehari-hari sehingga tidak menimbulkan celaan atau fitnah buruk di
kalangan masyarakat sekeliling kita (anneahira.com).
2. Tujuan Pendidikan Aqidah Akhlak
Akidah Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah
merupakan salah satu mata pelajaran PAI yang mempelajari tentang rukun iman
yang dikaitkan dengan pengenalan dan penghayatan terhadap al-asma’ al-husna,
serta penciptaan suasana keteladanan dan pembiasaan dalam mengamalkan akhlak
terpuji dan adab Islami melalui pemberian contoh-contoh perilaku dan cara
mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Secara substansial mata pelajaran Akidah
Akhlak memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk
mempraktikkan al-akhlakul karimah dan adab Islami dalam kehidupan sehari-hari
sebagai manifestasi dari keimanannya kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta Qada dan Qadar.
Al-akhlak al-karimah ini
sangat penting untuk dipraktikkan dan dibiasakan sejak dini oleh peserta didik
dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam rangka mengantisipasi dampak
negatif era globalisasi dan krisis multidimensional yang melanda bangsa dan
Negara Indonesia. Mata pelajaran Akidah Akhalak di Madrasah Ibtidaiyah
bertujuan untuk membekali peserta didik agar dapat:
a. Menumbuhkembangkan
akidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan,
pengalaman, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang akidah Islam
sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya
kepada Allah SWT.
b. Mewujudkan manusia
Indonesia yang berakhlak mulia dan menghindari akhlak tercela dalam kehidupan
sehari-hari baik dalam kehidupan individu maupun sosial, sebagai manifestasi
dari ajaran dan nilai-nilai akidah Islam (anneahira.com)
D. Hasil Belajar
1. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar siswa adalah hasil yang diperoleh dari nilai ulangan harian,
dimana ulangan-ulangan harian ini diberikan oleh guru kepada para siswa untuk
mengetahui sejauh mana taraf keberhasilan mengajar guru dan belajar siswa.
Hasil belajar merupakan gambaran tingkat penguasaan siswa terhadap sasaran
belajar pada topik bahasan yang dieksperimenkan, yang diukur dengan berdasarkan
jumlah skor jawaban benar pada soal yang disusun sesuai dengan sasaran belajar.
Evaluasi merupakan suatu kegiatan yang perlu dilakukan guna melihat sejauh mana
tujuan pendidikan telah dapat dicapai atau dikuasai oleh peserta didik dalam
bentuk hasil belajar yang diperlihatkannya setelah mereka menempuh perjalanan
belajar (proses pembelajaran). Di samping itu juga untuk mengetahui keefektifan
pengalaman belajar dalam mencapai hasil belajar yang optimal. Dengan demikian
evaluasi hasil belajar diarahkan untuk mengetahui pencapaian kompetensi
profesional sesuai yang dipersyaratkan dalam kurikulum (Arikunto, Suharsimi. 1993).
Jadi dari berbagai pendapat
mengenai hasil belajar peneliti menyimpulkan bahwa definisi dari hasil belajar adalah pencapaian
tujuan dalam pembelajaran yang direalisasikan melalui kompetensi yang telah
diperoleh baik secara tulisan maupun perubahan tingkah laku.
Sebelum dijelaskan mengenai
hasil belajar, terlebih dahulu akan dikemukakan tentang pengertian hasil. Sudah
dijelaskan dimuka bahwa yang dimaksud dengan prestasi adalah hasil yang telah
dicapai. Dengan demikian hasil adalah hasil yang telah dicapai oleh seseorang
setelah melakukan suatu pekerjaan / aktivitas tertentu. Jadi prestasi adalah
hasil yang telah dicapai oleh karena itu semua individu dengan adanya belajar
hasilnya dapat dicapai. Setiap individu menginginkan hasil yang sebaik mungkin.
Oleh karena itu setiap individu harus belajar dengan sebaik- baiknya supaya
prestasinya berhasil dengan baik. Pengertian dari dua kata prestasi dan belajar
atau prestasi belajar berarti hasil belajar, secara lebih khusus setelah siswa
mengikuti pelajarandalam kurun waktu tertentu. Salah satu bentuk hasil belajar
adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan
dalam diri individu sebagai hasil dari aktifitas belajar. Jika perubahan
tingkah laku adalah tujuan yang harus dicapai dalam aktifitas belajar, maka
perubahan tingkah laku itulah salah satu indikator yang dijadikan pedoman untuk
mengetahui kemajuan individu dalam segala hal. Hasil belajar adalah penilaian
pendidikan tentang kemajuan siswa dalam segala hal yang dipelajari di sekolah
yang menyangkut pengetahuan atau kecakapan/keterampilan yang dinyatakan sesudah
hasil penilaian” (Djamarah. 2002). .
Dari definisi di atas dapat
disimpulkan hasil belajar adalah penilaian tentang tingkat perubahan dan
kemajuan seseorang sebagai hasil dari aktifitas belajar. Kemajuan yang
diperoleh tidak saja berupa ilmu pengetahuan, tapi juga berupa kecakapan atau
kertampilan. Selain untuk mengetahui kemajuan siswa setelah melakukan aktifitas
belajar, hasil belajar berfungsi sebagai berikut :
1. Hasil belajar sebagai
hasil penilaian
2. Hasil belajar sebagai
alat motivasi
Melalui penilaian dapat
ditentukan tinggi rendahnya belajar siswa. Penilaian berarti juga evaluasi,
yaitu tindakan untuk menentukan nilai segala sesuatu dalam pendidikan. Dengan
melakukan evaluasi maka akan diketahui tentang kemajuan hasil belajar yang
telah dicapai siswa dan memberikan informasi kepada guru tentang keberhasilan
kegiatan pengajarannya.
Hasil Belajar dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia bahwa Hasil belajar adalah “hasil yang dicapai terhadap
penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran,
lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau keterampilan” (Pusat Bahasa
Depdiknas : 2001).
Belajar itu akan membawa
perubahan yang meningkat, kalau subyek belajar mengalami atau melakukannya. Perubahan
tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan, tetapi juga berbentuk
kecakapan, keterampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak,
penyesuaian diri. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa belajar adalah
rangkaian kegiatan jiwa raga, (psiko fisik) untuk menuju ke perkembangan
pribadi manusia seutuhnya, yang berarti menyangkut unsur cipta, rasa dan karsa,
ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Selanjutnya menurut Suryabrata
dinyatakan bahwa dari kegiatan belajar akan didapatkan hal-hal pokok sebagai
berikut:
a.
Bahwa belajar itu membawa perubahan (dalam arti behavioral
changes aktual maupun potensial)
b.
Bahwa perubahan pada pokoknya adalah didapatkan
kecakapan baru
c.
Bahwa perubahan itu terjadi karena usaha dengan
sengaja (Suryabrata, 1987).
Agar perubahan sebagai hasil
belajar sesuai dengan tujuan belajar maka diperlukan peran guru untuk
membimbing siswa dalam kegiatan belajarnya. Hal ini dimaksudkan agar siswa
aktif melakukan usaha belajar dengan segala potensi yang dimilikinya. Dalam
memberikan bimbingan kepada siswa guru dapat menggunakan berbagai cara atau
pendekatan sesuai dengan karakteristik siswa. Dengan demikian tindakan yang
dilakukan oleh guru bagi siswa atau diharapkan akan merupakan meningkatkan
usaha belajar siswa. Hal ini pada akhirnya akan meningkatkan hasil belajar
siswa.
Dengan demikian pengertian prestasi
belajar disini sudah mencakup segi pengetahuan, kecakapan, dan tingkah laku yang
diperoleh melalui latihan (pengalaman) bukan perubahan dengan sendirinya melainkan
karena pertumbuhan kematangan atau keadaan sementara. Dari proses perubahan tersebut
dapat disimpulkan menjadi tiga unsur yaitu : Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik
(Dimyati dan
Mudjiono. 2002:42).
a) Kognitif
Domain kognitif menunjukkan
tujuan pendidikan yang terarah kepada kemampuan-kemampuan intelektual, kemampuan
berpikir maupun kecerdasan yang akan dicapai. Domain kognitif oleh Bloom dalam (Soedjadi,2000) dibedakan
atas 6 kategori yang cenderung khirarkis. Keenam kategori itu adalah ingatan, pemahaman,
aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi.
Tujuan kognitif inilah
yang selama ini sangat diutamakan dalam pendidikan di Indonesia, kurang memperhatikan
domain yang lain. Apabila hal tersebut dibiarkan tersebut menerus tanpa sama sekali
memperhatikan domain yang lain, kiranya mudah dipahami kalau hasil pendidikan kita
sangat mungkin mencapai tingkat kecerdasan yang tinggi, tetapi tidak menunjukkan
sikap-sikap yang diharapkan dalam pergaulan sehari-hari.
b)
Afektif
Domain Afektif menunjukkan
tujuan pendidikan yang terarah kepada kemampuan-kemampuan bersikap dalam menghadapi
realitas atau masalah-masalah yang muncul disekitarnya. Domain afektif ini oleh
David R. Krathwohl dkk. 1964, (Dalam Soedjadi, 2000) yang dikembangkan menjadi 5
kategori, yaitu 1). penerimaan, 2). penanggapan, 3). penilaian, 4). pengorganisasian,
5). pemeranan.
c)
Psikomotorik
Domain Psikomotor menunjukkan tujuan
pendidikan yang terarah kepada ketrampilan-ketrampilan. Khususnya untuk pelajaran
matematika pengertian ketrampilan dapat diartikan ketrampilan yang bersifat fisik,
misalnya melukis suatu bangun. Tetapi juga ketrampilan melakukan algoritma-algoritma
tertentu yang adakalanya hanya terdapat dalam pikiran. Domain psikomotoroleh Elizabeth
Simpson, 1967(dalam Soedjadi 2000) dibedakan menjadi; 1). persepsi, 2). kesiapan,
3). respon terpimpin, 4). mekanisme, 5). respon yang jelas dan kompleks, 6). adaptasi/penyesuaian,
7). penciptaan/keaslian.
Dalam hal ini terdapat suatu relevansi
antara prestasi belajar dengan firman Allah SWT yang menyatakan bahwa masing-masing
dari individu akan menerima balasan yang telah dilakukannya sebagaimana yang tercantum
dalam Surat Az-Zalzalah ayat : 7 dan 8 yang artinya berbunyi :
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا
يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
Artinya : “ Barang siapa yang
mengerjakan kebaikan seberat dzarah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya),
dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarah pun, niscaya dia
akan melihat (balasannya) pula.“ (Al-Qur’an dan Terjemahannya, 1986).
Dari sini dapat diketahui secara
jelas bahwa diperintahkan untuk memacu diri dalam rangka peningkatan prestasi yang
maksimal dan tentunya akan dapat merasakan hasil dari usaha dan jerih payah yang
telah dilakukan, demikian halnya dengan para siswa yang juga akan dapat dilihat
dari usahanya dalam disiplin diri dan belajarnya.
Sedangkan istilah belajar itu sendiri
adalah suatu proses mental yang mengarah kepada penguasaan, pengetahuan, kecakapan,
skill kebiasaan atau sikap yang kesemuannya diperoleh, disimpan dan dilaksanakan,
sehingga menimbulkan tingkah laku yang progresif aduptif (Winkel, 1982:151).
Jadi pengertian dari prestasi belajar
adalah suatu bukti keberhasilan usaha yang dapat dicapai berkat adanya belajar.
Selanjutnya untuk mengetahui bukti keberhasilan dapat dinyatakan dengan berupa
prestasi belajar itu ditempuh dengan menggunakan alat yakni melalui evaluasi dan
penilaian. Alat ukur untuk keperluan tersebut menggunakan tes, pada umumnya tes
tersebut terbagi menjadi tes tulis, tes lisan, dan tes perbuatan.
Dalam dunia pendidikan,
khususnya dunia persekolahan guru wajib mengetahui sejauh mana keberhasilan siswanya
telah berhasil mengikuti pelajaranyang diberikan oleh guru. Untuk melaksanakan penilaian
tentang prestasi belajar siswa maka guru sebagai subyek evaluasi untuk setiap tes.
Maka alat evaluasi yang digunakan dapat digolongkan mennjadi dua macam, yaitu: tes
dan bukan tes (non - tes).
Selanjutnya tes dan
non tes ini juga disebut sebagai teknik evaluasi. Tes adalah suatu alat, atau prosedur
yang sistematis dan obyektif untuk memperoleh dataâdata atau keterannganketerangan
yang diinginkan tentang seseorang, denngan cara yang boleh dikatakan tepat dan cepat.
Menurut Mukthar Bukhari di dalam bukunya âTehnik-tehnik Evaluasiâ, bahwa tes ialah
suatu percobaan yang diadakan untuk mengetahui ada dan tidaknya hasil - hasil tertentu
pada seseorang murid atau kelompok.
Ditinjau dari segi
kegunaan untuk mengukur/menentukan prestasi belajar siswa, maka dibedakan atas adanya
3 macam tes, yaitu;
1) Tes Diagnostik
Adalah tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan
kelemahan siswa sehingga berdasarkan kelemahan kelemahan tersebut dapat dilakukan
pemberian perlakuan yang tepat.
2) Tes Formatif
Dari kata "from" yang merupakan dasar
dari istilah "formatif", maka evaluasi formatif dimaksudkan untuk mengetahui
sejauh mana telah terbentuk setelah mengikuti sesuatu program tertentu. Dalam kedudukannya
seperti ini tes formatif dapat juga dipandang sebagai tes diagnostik pada ahkir
pelajaran. Evaluasi formatif atau
tes formatif diberikan pada ahkir setiap program. Tes ini merupakan post-tes atau
tes ahkir.
3) Tes Sumatif
Evaluasi sumatif atau tes sumatif dilaksanakan setelah
ahkirnya pemberian sekelompok program atau sebuah program yang lebih besar. Dalam
pengalaman di sekolah tes formatif dapat disamakan dengan ulangan harian, sedangkan
tes sumatif ini dapat disaamakan dengan ulangan umum yang biasanya dilaksanakan
pada tiap akhir catur wulan atau akhir semester akhir. (Arikunto, 1991 : 33)
Tiap guru mempunyai
pendapat sendiri tentang cara menentukan nilai akhir. Hal ini sangat di
pengaruhi oleh cara pandang mereka terhadap penting dan tidaknya bagian
kegiatan yang di lakukan oleh siswa. Yang di maksud dengan kegiatan-kegiatan
siswa misalnya; menyelesaikan tugas, mengikuti diskusi, menempuh tes formatif,
menempuh tes tengah semester, "tes semester", menghadiri pelajaran
dan sebagainya.
Sementara guru
berpendapat bahwa menghadiri pelajaran dan mengikuti diskusi sudah merupakan
kegiatan yang sangat menunjang prestasi sehingga absensi siswa perlu di
pertimbangkan dalam menentukan nilai akhir. Guru lain berpendapat sebaliknya,
karena walaupun hadir dalam pelajaran, mungkin hanya raganya saja. Dengan
demikian tidak ada gunanya memperhitungkan absensi.
Penentuan nilai akhir di
lakukan terutama pada waktu guru akan mengisi rapor atau STTB. Biasanya dalam
menentukan nilai akhir ini guru sudah di bombing oleh suatu peraturan atau
pedoman yang di keluarkan oleh pemerintah atau kantor/badan yang membawahinya
(Mulyadi, 2003 : 35).
2. Faktor faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Semua faktor yang mempengaruhi
hasil belajar dan pembelajaran itu dapat digolongkan menjadi faktor-faktor yang
berasal dari diri orang sendiri, maupun yang berasal dari luar.
a. Faktor Internal
1) Faktor biologis
(jasmaniah)
Keadaan jasmani yang perlu
diperhatikan, pertama kondisi fisik yang normal atau tidak memiliki cacat sejak
dalam kandungan sampai sesudah lahir. Kondisi fisik normal ini terutama harus
meliputi keadaan otak, panca indera, anggota tubuh. Kedua, kondisi kesehatan
fisik. Kondisi fisik yang
sehat dan segar sangat mempengaruhi keberhasilan belajar. Di dalam menjaga
kesehatan fisik, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain makan dan
minum yang teratur, olahraga serta cukup tidur.
2) Faktor Psikologis
Faktor psikologis yang
mempengaruhi keberhasilan belajar ini meliputi segala hal yang berkaitan dengan
kondisi mental seseorang. Kondisi mental yang dapat menunjang keberhasilan
belajar adalah kondisi mental yang mantap dan stabil. Faktor psikologis ini
meliputi hal-hal berikut. Pertama, intelegensi. Intelegensi atau tingkat
kecerdasan dasar seseorang memang berpengaruh besar terhadap keberhasilan
belajar seseorang. Kedua, kemauan. Kemauan dapat dikatakan faktor utama penentu
keberhasilan belajar seseorang. Ketiga, bakat. Bakat ini bukan menentukan mampu
atau tidaknya seseorang dalam suatu bidang, melainkan lebih banyak menentukan
tinggi rendahnya kemampuan seseorang dalam suatu bidang.
3) Kematangan
untuk Belajar
Kematangan untuk belajar
adalah kaitan dengan pertumbuhan biologis. Dimana mahasiswa yang belajar
memerlukan tantangan yaitu dengan menggunakan internet dimana dapat menjawab
rasa ingin tahu yang tinggi.
4)
Kemampuan atau keterampilan dasar
untuk Belajar
Faktor ini merupakan prasyarat
bagi keberhasilan proses belajar. Seseorang yang memiliki kemampuan belajar
yang tinggi akan lebih cepat berhasil dalam belajar.
5)
Dorongan untuk berprestasi
Dorongan ini telah ada sejak
orang lahir, tinggi rendahnya tergantung pada pengalaman orang belajar.
b. Faktor Eksternal
1)
Suasana Belajar
Faktor ini merupakan suasana fisik dan layanan yang cepat, akurat.
2)
Guru/media pendukung
Guru harus kreatif dalam metode belajar dan harus bervariasi sehingga
mahasiswa mempunyai motivasi belajar yang tinggi walaupun tanpa pengajar
langsung.
3)
Penguatan
Perlunya
diberikan penguatan-penguatan merupakan upaya yang efektif untuk mencapai hasil
belajar dan pembelajaran. Penguatan ini dapat dilakukan dengan menggunakan
sistem pengajaran atau terhadap respon mahasiswa kepada stimulus yang sesuai
dengan yang diinginkan dalam rangka pembelajaran.
4)
Faktor lingkungan keluarga
Faktor
lingkungan rumah atau keluarga ini merupakan lingkungan pertama dan utama pula
dalam menentukan keberhasilan belajar seseorang. Suasana lingkungan rumah yang
cukup tenang, adanya perhatian orangtua terhadap perkembangan proses belajar
dan pendidikan anak-anaknya maka akan mempengaruhi keberhasilan belajarnya.
5)
Faktor lingkungan sekolah
Lingkungan
sekolah sangat diperlukan untuk menentukan keberhasilan belajar siswa. Hal yang
paling mempengaruhi keberhasilan belajar para siswa disekolah mencakup metode
mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa,
pelajaran, waktu sekolah, tata tertib atau disiplin yang ditegakkan secara
konsekuen dan konsisten.
6)
Faktor lingkungan masyarakat
Seorang
siswa hendaknya dapat memilih lingkungan masyarakat yang dapat menunjang
keberhasilan belajar. Masyarakt merupkan faktor ekstern yang juga berpengruh
terhadap belajar siswa karena keberadannya dalam masyarakat. Lingkungan yang
dapat menunjang keberhasilan belajar diantaranya adalah, lembaga-lembaga
pendidikan nonformal, seperti kursus bahasa asing, bimbingan tes, pengajian
remaja dan lain-lain. Dengan meperhatikan faktor-faktor tersebut diharapkan
dapat meningkatkan hasil belajar seseorang dan dapat mencegah siswa dari
penyebab-penyebab terhambatnya pembelajaran.
Semua faktor yang mempengaruhi
hasil belajar dan pembelajaran itu dapat digolongkan menjadi faktor-faktor yang
berasal dari diri orang belajar sendiri, maupun yang berasal dari luar.
Faktor-Faktor yang termasuk di dalam diri individu yang belajar mencakup antara
lain :
a)
Kematangan untuk Belajar
Kematangan untuk belajar
adalah kaitan dengan pertumbuhan biologis. Dimana mahasiswa yang belajar
memerlukan tantangan yaitu dengan menggunakan internet dimana dapat menjawab
rasa ingin tahu yang tinggi.
b)
Kemampuan atau keterampilan dasar untuk Belajar
Faktor ini merupakan prasyarat
bagi keberhasilan proses belajar. Seseorang yang memiliki kemampuan belajar
yang tinggi akan lebih cepat berhasil dalam belajar
c)
Dorongan untuk berprestasi
Dorongan ini telah ada sejak
orang lahir, tinggi rendahnya tergantung pada pengalaman orang belajar
Sedangkan faktor-faktor diluar
individu adalah:
a)
Suasana Belajar
Faktor ini
merupakan suasana fisik dan layanan yang cepat, akurat.
b)
Guru/media pendukung
Guru harus
kreatif dalam metode belajar dan harus bervariasi sehingga mahasiswa mempunyai
motivasi belajar yang tinggi walaupun tanpa pengajar langsung.
c)
Penguatan
Perlunya diberikan
penguatan-penguatan merupakan upaya yang efektif untuk mencapai hasil belajar
dan pembelajaran. Penguatan ini dapat dilakukan dengan menggunakan sistem
pengajaran atau terhadap respon mahasiswa kepada stimulus yang sesuai dengan
yang diinginkan dalam rangka pembelajaran.

0 Komentar